Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

ini cerpenku yang perertama,.

Misteri “ TANDA CINTA ” By: Nurul Khabibah                   Seorang lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya sore itu. Ia kelihatan murung dan kelihatan memikirkan sesuatu. Matanya mendelik, keningnya berkerut. Rasanya memang ada hal yang sangat penting yang ia pikirkan saat itu. Suara paraunya bersenandung kecil “pararararam...pararararam...pararararam..”. Lalu wajahnya murung lagi. Seselaki si kakek itu disapa orang, namun dia tak merespon sama sekali sapaan tersebut. Rasanya dia memang benar-benar sedang memikirkan hal yang berat dan penting sekali. Hingga dia terlihat seperti orang linglung. “Ahmad... kau sedang apa di situ? Ahmad..! Ahmad.. Kau mendengarkanku? Ahmad!” dari dalam rumah muncul perempuan paruh baya.

ini cerpen keduaku

Manusia-manusia Tolol oleh: Nurul Khabibah Pagi itu aku berangkat ke sekolah. Aku lihat di persimpangan jalan sesosok lelaki yang terkapar di jalan dengan luka yang teramat parah. Darahnya masih segar. “Sepertinya, habis dibunuh dengan dikeroyok oleh sekelompok orang” pikirku. Orang-orang berkerumun, mereka ribut menentukan siapa yang telah membunuh lelaki itu. Perseteruan itu semakin lama semakin seru saja, mirip sekali perdebatan di ruang sidang dewan. Padahal mereka hanyalah sekelompok manusia-manusia tolol yang bangga karena membunuh seorang lelaki. Si lelaki adalah orang kurang beruntung yang kebetulan sedang apes , tapi ia seperti dikirim oleh Tuhan untuk membuat seseorang menjadi pembunuh, dan waktu itu, gelar pembunuh sangatlah membanggakan. Pedebatan semakin memanas. Para pengeroyok yang juga para pembunuh itu saling tuding diri masing-masing.

cerpen SGA

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU by Seno Gumira Adji Darma Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.