Langsung ke konten utama

ini cerpenku yang perertama,.



Misteri “TANDA CINTA
By: Nurul Khabibah                 
Seorang lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya sore itu. Ia kelihatan murung dan kelihatan memikirkan sesuatu. Matanya mendelik, keningnya berkerut. Rasanya memang ada hal yang sangat penting yang ia pikirkan saat itu. Suara paraunya bersenandung kecil “pararararam...pararararam...pararararam..”. Lalu wajahnya murung lagi. Seselaki si kakek itu disapa orang, namun dia tak merespon sama sekali sapaan tersebut. Rasanya dia memang benar-benar sedang memikirkan hal yang berat dan penting sekali. Hingga dia terlihat seperti orang linglung.
“Ahmad... kau sedang apa di situ? Ahmad..! Ahmad.. Kau mendengarkanku? Ahmad!” dari dalam rumah muncul perempuan paruh baya.
Mungkin dia istrinya. Sepertinya sedari tadi dia mengamati tingkah laku dan sikap Ahmad yang murung dan terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat. Karna tak kuasa lama-lama melihat Ahmad bersikap demikian akhirnya dia menghampiri dan memanggilnya. Namun panggilannya tak terjawab, Ahmad, lelaki paruh baya tersebut tetap saja melamun, ia asyik memikirkan sesuatu yang kelihatannya sangat penting. Untuk kesekian kalinya Zulaikha memanggil Ahmad, kali ini dengan nada yang agak tinggi dan sedikit kesal. “Ahmad, sedang apa kau di situ?”.
Ahmad tersentak kaget, “oh... kamu, ada apa?”
“Sedang apa kamu di  situ?” Zulaikha mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan nada yang rendah dan penuh kasih sayang.
“Hari apa ini?” Ahmad tidak menjawab pertanyaan Zulaikha, dia malah bertanya balik.
“Hari Senin,” Zulaikha menjawabnya sambil duduk di samping Ahmad.
“Tanggal satu?” Ahmad kembali bertanya.
“Iya, tanggal satu, persis seperti yang kau inginkan”.
“tiba-tiba saja aku ingat dengan pertanyaan itu lagi” Ahmad kembali murung, sepertinya dia teringat dengan apa yang dia pikirkan sejak tadi. Suasana hening, hingga suara kelelawar terdengar sangat jelas.
Nampaknya setelah mendengar perkataan Ahmad tadi, Zulaikha juga ikut merenung. Ia juga terlihat memikirkan sesuatu. Wajahnya tertunduk, lalu suaranya yang parau keluar “kau mengingat pertanyaan itu lagi?”.
“iya” Ahmad menjawabnya dengan pelan. “selama 45 tahun pertanyaan itu selalu menghantuiku, toh kamu juga belum pernah menjawabnya, meskipun sudah sering aku tanyakan”.
Zulaikha terdiam, dia benar-benar terdiam bagaikan patung yang sedang duduk di samping Ahmad, patung orang tua yang terlihat sedang memikul beban berat, sedang memikirkan hal yang sangat serius dan sangat berat berat.  
Tak berapa lama, keheningan yang terjadi pecah. Seketika itu Ahmad berjalan menuju tepi jalan. Ahmad memanggil-manggil orang yang lalu lalang. Ia panggil satu per satu orang yang ia lihat. Maka seketika itu orang-orang pada berbondong-bondong mendekati Ahmad, kakek tua itu. Namun, Zulaikha masih saja terdiam, kali ini ia terdiam karena ia heran, “Apa yang hendak dia lakukan, kenapa dia mengumpulkan banyak orang”, katanya dalam hati. Zulakha masih terduduk di kursi teras rumahnya. Ia mengamati kelakuan suaminya.
“Hei... hei.. hei... kemari semua” teriak Ahmad
“Ada yang bisa menolongku? Tolong ke mari sebentar, saya mau minta tolong”
“Apa yang dapat kami bantu kakek Ahmad?” tanya salah satu orang yang mendekat
“Kemarilah nak, kakek ingin minta tolong buat mencarikan jawaban dari pertanyaan ini, pertanyaan yang muncul semenjak aku berpacaran dengan Zulaikha. Dan sekarang pertanyaan itu menghantui hidupku, aku tak kuasa merasakannya. Pertanyaan yang setian hari selalu beterbangan di atas kepalaku, makan tak enak, tidur tak nyenyak, bahkan kerja pun tak semangat. Sungguh pertanyaan ini menghantui hidupku. Aku tidak akan tenang sebelum petanyaan ini terjawab, jadi tolong bantu aku mencari jawabannya nak, apakah kamu tahu, masihkah ada cinta diantara aku dan istriku?” cerita Ahmad panjang lebar.
Zulaikha kaget setelah mendengar perkataan Ahmad tadi, dari kejauhan wajahnya terlihat marah sekali, pikiran Zulaikha mulai tak karuan. Kemudian dia melangkah menghampiri Ahmad. Tatapannya tajam, seperti harimau yang mendapat mangsa.  “Kau ini apa-apaan Ahmad, ini masalah kita berdua, kamu jangan bawa-bawa orang lain. Ini masalah antara kau dan aku, dan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus aku jawab, jangan kau minta orang lain untuk menjawabnya Ahmad. Kau ini dari dulu sama saja. Itu terus yang ditanyakan, kaya tak ada pertanyaan yang lain, sampai-sapai orang lain pun dilibatkan”. Zulaikha berkata ketus sekali, tapi masih kelihatan anggun walau ia sudah tua.
“Nah, kau tahu itu, kau tahu dari dulu aku selalu menanyakan pertanyaan tersebut, tapi kau tak pernah menjawabnya, padahal pertanyaanku kan sepele Masih Adakah Cinta Diantara Kita? Apa susahnya menjawab, ayolah Zulaikha, jangan buat aku mati penasaran begini”. Pinta Ahmad manja. Dia memang sedang dihantui pertanyaan itu, dia sangat ketakutan akan pertanyaan itu dan dia sungguh ingin tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Pertanyaan sepele, tapi itu penting bagi Ahmad. Pertanyaan ini serasa malaikat pencabut nyawa Ahmad, yang selalu mengejar-ngejarnya.
“Ahmad suamiku, kenapa aku harus menjawabnya, toh kamu bisa melihatnya sendiri, sampai sekarang aku masih di sini bersamamu, bukankah itu sudah termasuk jawaban, tanpa aku harus menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya menjawabnya dengan tindakanku, dengan keseharianku. Oooh... Ahmad suamiku, mengertilah sayang”.
“iya aku tahu, tapi aku masih tetap ingin mendengarkan jawaban dari mulutmu Masih Adakah...
Cinta Diantara Kita?” Zulaikha melanjutkan pertanyaan yang menghantui hidup Ahmad.
“iya, masih?” Ahmad terus mendesak.
“Baiklah Ahmad, kau ingin tahu seberapa besar cintaku padamu, dan kau menanyakan apakah dulu dan sekarang rasa cinta itu masih utuh?, mari ikut aku ke seberang sana, nanti kau akan mengetahui jawabannya”. Kata Zulaikha pada Ahmad.
Lalu mereka berdua berjalan menuju seberang sana, mereka saling bergandengan tangan mesra sekali, senyum manis terukir diwajah suami istri itu. Mereka terlihat seperti muda lagi, hati mereka berbunga-bunga, serasa sedang jatuh cinta. Dengan begitu perlahan mereka berjalan bersama. Dan Ahmad pun mendapat jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantuinya itu setelah orang-orang berkerumun di tengan jalan.
Memang seharusnya Ahmad sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu, pertanyaan itu memang tidak butuh jawaban dari mulut, tapi butuh jawaban dari tindakan dan keseharian. Semua itu telah Ahmad ketahui. Ahmad dan Zulaikha bersama-sama selama 45 tahun lamanya, susah bersama, senang bersama, mati pun kini bersama. Ya, mereka berdua tertabrak mobil tepat di tengah-tengah jalan. Mereka tertabrak dengan posisi saling bergandeng tangan dan senyum yang terukir indah. Semua itu menunjukkan betapa bahagianya mereka yang saling mencintai sampai tua bahkan sampai mati.
~ SELESAI ~

Komentar

  1. cie yang main teater, aku diajarin juga dong, biar keren kayak kamuu :*

    BalasHapus
  2. hehehe.. nggak kebalik Him, harusnya kamu yang ngajarin aku

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI SINOPSIS Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang. Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang han...

FOKLOR ~ Misteri dibalik Cerita Bukit Gombel Semarang

KAWASAN GOMBEL DAN MISTERI DISEBALIKNYA Bila ke kota Semarang dari arah selatan, kita akan melewati daerah Gombel. Nama Gombel menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di kota Semarang itu, melewati tanjakan terjal dan curam saat akan berziarah. Pada waktu itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit. Namun sampai saat ini, belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab pemberian nama Gombel itu. Saat zaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T. de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab saat itu pengembangan kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal ...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.