Manusia-manusia Tolol
oleh: Nurul Khabibah
oleh: Nurul Khabibah
Pagi itu aku berangkat ke sekolah. Aku
lihat di persimpangan jalan sesosok lelaki yang terkapar di jalan dengan luka
yang teramat parah. Darahnya masih segar. “Sepertinya, habis dibunuh dengan
dikeroyok oleh sekelompok orang” pikirku. Orang-orang berkerumun, mereka ribut
menentukan siapa yang telah membunuh lelaki itu. Perseteruan itu semakin lama
semakin seru saja, mirip sekali perdebatan di ruang sidang dewan. Padahal
mereka hanyalah sekelompok manusia-manusia tolol yang bangga karena membunuh
seorang lelaki. Si lelaki adalah orang kurang beruntung yang kebetulan sedang apes, tapi ia seperti dikirim oleh Tuhan
untuk membuat seseorang menjadi pembunuh, dan waktu itu, gelar pembunuh
sangatlah membanggakan. Pedebatan semakin memanas. Para pengeroyok yang juga
para pembunuh itu saling tuding diri masing-masing.
“Itu korbanku! Jelas, lihat luka di
tangannya!” orang madura itu berkata. “Darah dari luka itu cukup banyak.
Celuritku inilah yang telah membunuhnya. Sudah terang kalau ia itu mayatku!” Ia
ngotot sekali. Reputasinya sebagai orang Madura memang sudah terkenal dengan
keberaniannya.
“Sembarangan. Sudah jelas di matanya
itu membulat bekas tinjuku. Paling tidak, tulangnya hancur dan matanya keluar sekarang.
Tinjuku ini luar biasa kerasnya! Ia bisa mematikan, tentu saja itu”. Orang
Betawi yang jago silat itu tak terima.
“Tetapi,” sela Kesatria dari negeri
Sakura, “Lihat sayatan di punggungnya! Cukup panjang bukan? Kulitnya sampai
terkelupas. Pedangku ini biasa digunakan untuk mengupas kulit Badak!” si
Kesatria juga tak terima. Ia bahkan menggores-goreskan pedangnya ke batuan
karena kesal. Pedang samurai yang ia pegang memang terkenal sangat tajam.
Sabetannya bisa menewaskan orang dalam sekali tebas.
Perdebatan makin sengit. Semakin siang
semakin memanas. Saking asyiknya aku mengamati perdebatan itu, sampai-sampai
aku tak sadar kalau aku sudah terlambat untuk ke sekolah. Aku cuek, aku terus
mengamati perdebatan itu dengan serius, mataku sampai melotot. Mulutku melongo.
Tak pernah aku melihat kejadian seperti ini, melihat orang-orang tolol yang mengagung-agungkan
dan bangga akan ketololannya. Mereka menunjukkan muka yang meremehkan dan
menafikan pendapat semuanya. Sementara si mayat hanya terdiam. “Ya jelaslah si
mayat hanya terdiam, dia kan sudah mati, wkwkwkwk....” pikirku dalam hati.
Benar-benar lucu memang perdebatan ini bila diperhatikan, Mirip sekali dengan
perdebatan yang ada di kursi-kursi dewan. Masing-masing pihak punya pendapat
sendiri-sendiri, masing-masing pihak punya cita-cita sendiri. Namun semua itu
hanyalah pendapat dan cita-cita, tak lebih. Aku masih melihatnya, aku masih
mengamatinya, aku masih memperhatikannya kali ini dengan lebih serius.
Perdebatan ini semakin menarik, semakin indah, semakin lucu, cocok untuk
dijadikan sebagai hiburan. Mereka semua
masih memegang senjatanya sendiri-sendiri dan tak mau mengalah.
“Kalian jangan berebut. Lihat itu!
Besar sekali lubang di perutnya. Sudah jelas palu yang ku lempar tadi yang
membunuhnya! Alat-alat seperti kalian itu tidak bisa bahkan melukai sampai
dalam!” kata tukang kayu itu yang ikut-ikutan tidak terima.
“Dasar sesumbar!” bentak Pelempar
Batu.” Lihat benjol di keningnya itu! besar kan! Kalian mau benjol juga!
jelas-jelas batu lemparanku tadi mengenainya. Kenapa mesti ribut?!” Ia terkenal
sekali sebagai pemburu, pelempar batu andal dari gunung.
Situasi makin panas. Mereka terus
menerus berdebat. Bahkan para pengguna senjata itu hampir saja mengangkat
senjata lagi, sebelum diberikan jalan keluar oleh si tukang kayu. “Begini”,
katanya. “Kalau memang rumit, mayat ini kita biarkan dulu di sini. Bagaimana
kalau sekarang kita renung-renungkan dulu, apa benar senjata kita yang membunuh
mayat itu, dengan kepala dingin!”
Ada yang pergi ke hutan sepi, hingga
yang terdengar adalah suara air dan serangga. Ada yang pergi ke kuil tempat
biksu-biksu berdoa. Ada juga yang pergi ke lantai atas pondoknya, dan
bersemedi. Pokoknya macam-macam. Yang penting sepi, dan enak buat merenung.
****
“ckckck...Manusia adalah makhluk yang
lumayan logis. Maksudnya, ia pasti berpikir untuk memuaskan logikanya sendiri.
Padahal, logika adalah masalah masuk akal berbanding kemungkinan. Ada beberapa
hal masuk akal, tetapi tidak mungkin terjadi. Ada yang mungkin terjadi, tapi
dianggap tidak masuk akal. Itulah manusia”. Bisikku lirih.
Si balik pagar rumah warga aku
menguping perdebatan mereka. Aku memang anak kecil, namun aku bukanlah orang tolol
seperti mereka. Aku amati terus mereka. Satu per satu dari mereka pergi. Mereka
meninggalkan mayat lelaki itu terkapar sendirian di tanah. Semakin lama semakin
sepi. Orang-orang itu pergi entah kemana. Katanya sih tadi merenung.
Kemudian, aku hampiri mayat lelaki
malang itu. Aku langkahkan kakiku dengan perlahan mendekati mayat tersebut.
Setelah agak dekat aku amati dia, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Wuuuih... mengerikan sekali. Luka ada di mana-mana, tangan lelaki itu memang
terluka, darahnya mengucur deras sekali. Matanya memar, keluar, warnanya biru kehitam-hitaman, dan ada
rembesan darah di sela-selanya. Punggungnya penuh dengan sayatan pedang.
Sepertinya orang jepang itu benar, samurai yang ia miliki memang sangat
berbahaya. Lalu aku amati lagi, satu per satu. Aku lihat di bagian perut, seluruh
isi perut lelaki itu keluar karena terkena lemparan palu si tukang kayu (kata
tukang kayu tadi). Dan keningnya benjol besar sekali karena terkena lemparan
batu.
“Sungguh, manusia-manusia tolol”.
Makianku pada mereka sambil berjalan menjauh.
~ SELESAI ~
Fontnya kok beda ya...?,emang disengaja apa gimana?:D
BalasHapusItu di bawah tulisan Loker di Ujung Pena ada tulisan apa ya?
iya., fontnya emang dibuat beda.
BalasHapusitu tulisan yang ada di bawah Loker di Ujung Pena itu alasan mengapa blog ini berisi tentang sastra.
terima kasih mas Deni, sudah ngomen blog ane,, :)