PARA PRIYAYI
SINOPSIS
Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir
sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru
Sastrodarsono yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali
ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan
penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring”
dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan
itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas,
mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi
pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang.
Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari
Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga
Sastrodarsono saat Lantip tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan
di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas
yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih.Hubungan Embok Lantip dengan
keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan
Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian
tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.
Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan
ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri
jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik
matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang
benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada
Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy!
Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati
juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang bila kami melepas haus
di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah
langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah
keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka
menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat
Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah
ulem-nya dan penuh wibawa.
“Lho,
Yu, kok anakmu kamu bawa?”
“Inggih, Ndoro. Di rumah tidak ada orang yang menjaga tole.”
“Lha,
kasian begitu. Anak sekecil itu kamu eteng-eteng ke mana-mana.”
“Habis
bagaimana lagi, Ndoro.”
Lantip ingat bagaimana kedua suami-istri itu memandang
mereka lama-lama. Lantip hanya menundukkan kepala saat percakapan berlangsung.
Untuk seorang anak desa yang baru berumur enam tahun, dan anak bakul tempe yang
sederhana, tidak mungkin ada keberanian baginya untuk mendongak ke atas,
menatap muka priyayi-priyayi itu.Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi
tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab,
bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi
sangatlah tidak pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk
dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat
dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah
itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang
pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti
Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai
priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.
Dalam rumah tangga Ndoro guru, di samping harus membesarkan
anak-anaknya, juga menampung beberapa kemenakan. Dengan kata lain rumah tangga
Ndoro guru adalah rumah tangga khas priyayi jawa. Sang priyayi adalah juga soko
guru keluarga besar yang berkewajiban menampung sebanyak mungkin anggota
keluarga –jaringan itu ke dalam rumah tangganya. Rezeki dan pangkat itu
jangan dimakan sendiri, tidak pantas, saru, bila ada seseorang anggota
keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai, jadi gelandangan, tidak
menikmati pendidikan. Begitu sering saya dengar Ndoro guru menasehati
anak-anaknya dan siapa saja. Pada suatu sore sesudah persinggahan rutin mereka
di jalan Setenan, mereka duduk di amben di depan rumah mereka di Wanalawas.
Emboknya kemudian mendudukan Lantip dihadapannya.
“Wage,
Le, anakku yo, engger. Kamu sekarang sudah besar sudah enam tahun. Sudah waktunya
kamu pergi dari desa yang kecil dan sumpek ini.”
“Pergi,
Embok? Kita akan pergi?”
“Bukan
kita. Kamu sendiri, Le.”
“Saya harus pergi ka mana, Embok?”
“Kamu akan nderek, ikut Ndoro Guru di Setenan,
Le.”
“Kamu
nderek Ndoro Guru supaya lekas pinter, lekas sekolah.”
Suatu hari sesudah Lantip tinggal bersama keluarga
Sastrodarsono, Mbok berkunjung untuk menengok Lantip. Trdengar Ndoro Guru
kakung menyatakan keinginannya agar Lantip disekolahkan karena waktu itu Lantip
sudah berusia hampir tujuh tahun. Mereka juga mengusulkan agar mengganti
nama Wage menjadi Lantip yang artinya cerdas, tajam otaknya.Tidak terasa Lantip
sudah duduk di kelas lima dan sudah membayangkan setahun lagi akan tamat
sekolah Desa Karangdompol. Setamat sekolah akan banyak kesempatan meneruskan
sekolah ke sekakel, schakel school kata orang Belanda, yaitu sekolah peralihan
yang tujuh tahun lamanya. Lantip membayangkan setelah tamat sekolah akan
bekerja dan dapat membalas budi Emboknya dan keluarga Ndoro Guru Sastrodarsono.
Tapi, tiba-tiba datang kegoncangan itu! Pak dukuh datang dari Wanalawas dengan
tergopoh-gopoh mengabarkan Emboknya meninggal karena keracunan jamur. Saat itu
bagaimana hancur dan sedihnya hati Lantip.
Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang
anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia hanya bekerja sebagai
guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono
adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi.
Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri
tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil
istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan
keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di
dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan
dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi. Mereka tinggal setahun di
Ploso yang kemudian membeli rumah kecil di jalan Satenan. Segera setelah
mereka menempati rumah itu, Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan
tempat tinggal itu sebagaimana rumah tangga yang mereka inginkan yaitu
rumah tangga priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono,
dan juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih untuk
menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan sawah yang ada di
belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun rumah tangga priyayi, mereka
tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi priyayi itu adalah menjadi orang
terpandang kedudukannya di masyarakat bukan jadi orang kaya, tapi karena
kepinterannya.
Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang
dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran
adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah
HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke
sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru
menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya. Menurut meneer Soetardjo
dan meneer Soerojo di sekolahnya anak-anak mereka itu rata-rata bagus dalam
bahasa Belanda dan berhitung, anak-anak meraka maju dan pintar di
sekolah. Noegroho sangat senang dan kuat dalam sejarah dan ilmu bumi,
Hardojo kuat dalam bahasa Belanda, mengarang dan berhitung, Soemini sangat fasih
dalam bahasa Belandanya. Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka
tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat
memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari
keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada
keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun
hanya priyayi rendahan yaitu bekerja sebagai juru tulis di kabupaten.
Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya
mereka sekolahkan di HIS.
Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat
yang sangat buruk walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono
dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering
mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang.Soenandar yang jatuh
cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui
kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah
Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar
bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang
markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada
Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.
Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa
dan malu karena ia hanya anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya
tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya adalah
gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga
Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena
Soenandar, yang ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari
Sastrodarsono.
Dalam mendidik dan membesarkan keponakan-keponakannya
Sastrodarsono merasa tidak berhasil bila dibandingkan dengan anak-anak
kandungnya, mereka mandapat pendidikan dan pekerjaan serta kedudukan yang baik.
Soemini yang sudah berumur dua belas tahun dan baru duduk di kelas lima. Dua
tahun lagi dia sudah kelas tujuh umurnya empat balas tahun, dan sesudah tamat
umurnya sudah dekat dengan lima belas tahun. Maka sudah sepantasnya dicarikan
jodoh yang pantas buat Soemini. Soemini menikah dengan Raden Harjono, seorang
mantri polisi, anak tunggal Kamas Soemodiwongso.Keluarga Sastrodarsono sangat
terkesan dengan perilaku Raden Harjono yang sopan, luwes, ngganteng, baik hati,
dan cerdas.
Dalam rumah tangganya Soemini mendapat goncangan karena
mengetahui suaminya Harjono selingkuh dengan perempuan yang bekerja sebagai
penyanyi keroncong Sri Asih. Ia mengadu kepada Sastrodarsono. Tetapi akhirnya
dapat terselesaikan. Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas
dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini,
sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan
seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang
baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan
menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri
Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak
perempuan di kampung Beskalan ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang
keluarganya beragama Islam.
Setelah kegagalan menikah dengan Dik Nunuk hidup Hardojo
merasa tidak bergairah lagi. Prilaku dan sifat Dik Nunuk selalu membayangi
kehidupannya dan apabila ia teringat dengan Nunuk ia selalu mampir kepada Bude
Suminahdi Penumping, sekedar membicarakan masa lalunya dengan Nunuk, karena
berkat Bude Suminah itulah kedekatannya dengan Nunuk.
Pada suatu sore Hardojo sedang memimpin murid-murid kelas
tujuh bermain kasti. Seperti biasa mereka bermain dengan gembira dan penuh
gurauan. Kemudian giliran Soemarti yang memukul bola, tetapi saat berlari
menuju hong kakinya terporosok dan jatuh. Soemarti mengaduh kesakitan dan
cepat mendapat pertolongan Hardojo. Sejak kejadian itu Hardojo lebih sering
berkunjung ke rumah Soemarti anak tunggal keluarga priyayi Brotodinomo seorang
pensiunan panewu, kira-kira sederajat dengan asisten wedana di Wonogiri. Yang
akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang
bernama Harimurti.
Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur
bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini
dikarena bapaknya meras tidak sanggup untuk mematuhi aturan pemerintahan Jepang
yang mengharuskan mereka membungkukkan badan untuk menghormati matahari. Seperti
biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada
jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat
panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera
berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat
ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.
Dalam mengurus rumah tangganya Noegroho tidak berhasil
seperti kedudukannya yang priyayi yang terhormat dikalangan masyarakat seperti
yang diharapkan oleh Sastrodarsono, karena Marie anak perempuan Noegroho hamil
sebelum menikah. Maridjan, laki-laki yang menghamilinya, adalah laki-laki
miskin, orang desa, kehidupannya pun cukup dengan mengontrak. Yang lebih parahnya
lagi Maridjan itu pernah memiliki hubungan dengan pembantu kostnya sampai
akhirnya menikah dan pada saat kenal dengan Marie, Maridjan dalam kasus
perceraian. Tetapi berkat bantuan Lantip dan Hari akhirnya Maridjan menikahiMarie.Persiapan
pernikahan Marie dikalutkan dengan meninggalnya Mbah Putri. Saat pernikahan
Marie, Sastrodarsono tidak dapat menghadirnya karena masih terlihat lemas mengurusi
meninggalknya Mbah Putri. Gus Hari anak tunggalnya Hardojo sudah diduga sejak
kecil tumbuh sebagai pemuda yang peka, gampang menaruh belas kepada penderitaan
orang. Dia sangat cerdas dan banyak menaruh perhatian pada bidang kesenian.
Tetapi walaupun ia keluaran dari suatu perguruan tinggi dalam kehidupannya
tidak memanfaatkan hasil kuliahnya itu tetapi ia bergabung dengan lekra
kesenian wayang.
Dalam kesempatan itulah Hari pun berkenalan dengan Gadis
seorang penulis yang memiliki nama asliRetno Dumilah yang menjadi pacarnya,
karena kedekatannya itu sampai mereka pun melakukan perbuatan yang dilarang
agama sampai akhirnya Gadis pun hamil. Mengetahui hal itu Hari sangat ingin
segera menikahi Gadis. Pada waktu pertunangan Lantip dengan Halimah kesempatan
itu dipergunakan Hari untuk memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarga
besar Sastrodarsono.
Pada suatu waktu mereka mengadakan pawai yang meneriakan
dukungannya kepada Dewan Revolusi, Hari bersama Gadis yang sama-sama
tergabung dalam kesenian terperangkap, karena pada saat itu ABRI sedang
mengambil alih mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan
ormas-ormasnya.
“Hari,
kamu dalam bahaya. Sebaiknya kamu jangan lari. Nanti kita cari jalan yang
sebaiknya agar kau bisa selamat.”
“Saya
memang tidak akan lari. Saya akan jelaskan semuanya jika ditangkap, saya kan
bukan anggota PKI?”
Dalam keadaan gawat seperti itu Lantip memberikan saran agar
sebaiknya Hari meyerahkan dirinya, dan nanti bisa meminta bantuan pada Pakde
Nugroho untuk pembebasannya. Sementara Gadis pun tertangkap dan dianggapnya
sebagai gerwani, ia hamil dalam penjara sampai akhirnya meninggal saat akan
melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Sepeninggalan Mbah putri
kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang pada akhirnya membuat ia meninggal
dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono
semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato
kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga
besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung
di makam itu.Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk
pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya. Hari turut serta mengikuti
kangmasnya.
A.
FAKTA
CERITA
1.
ALUR
Secara keseluruhan novel “Para
Priyayi” karya Umar Kayam tidak menggunakan alur maju, alur mundur, ataupun
alur campuran karena novel ini terdiri dari beberapa episode, yaitu tentang :
Wanagalih, Lantip,Sastrodarsono, Lantip, Hardojo, Noegroho, Para Istri, Lantip,
Harimurti, dan Lantip. Masing-masing episode ini membentuk alurnya
sendiri-sendiri. Akan tetapi, antara episode yang satu dengan yang lain mempunyai
hubungan yang erat. Lantip merupakan penghubung antara episode yang satu dengan
yang lain. Dengan adanya pembagian episode ini, para tokoh diberi kesempatan
untuk menuturkan dirinya sendiri bahkan menilai tokoh lain. Oleh karena setiap
episode membentuk alurnya sendiri-sendiri, tahapan alur tidak dapat digambarkan
secara jelas.
Berikut ini adalah tahapan alur
novel “Para Priyayi” secara keseluruhan:
a. Tahap Perkenalan
a. Tahap Perkenalan
Tahap ini
dilukiskan mengenai latar tempat yang menjadi pusat cerita dalam novel ini, yaitu
Wanagalih. Tahap perkenalan ini diceritakan oleh tokoh Lantip. Kemudian,
diceritakan keadaan Lantip pada masa kanak-kanak dengan ibunya yang berjualan
tempe. Ketika itu Lantip diceritakan belum mengetahui ayah kandungnya.
Bukti: “Ayah saya... wah, saya tidak
pernah mengenalnya. Embok selalu mengatakan ayah saya pergi jauh untuk mencari
duit (Para Priyayi, 2003: 10)”.
b. Pemunculan Konflik
Pemunculan konflik dapat dilihat
ketika Sastrodarsono mengalami konflik intern tentang penentuan sikap
kepriayiaannya. Sastrodarsono mulai menemukan gaya kepriayiannya dan berhadapan
dengan model pemikiran priayi lain. Hal ini terjadi ketika Sastrodarsono
ditunjuk untuk menggatikan Martoatmodjo sebagai kepala sekolah desa
Karangdompol. Suatu siang ada seorang kurir dari kota yang membawa berita bahwa
Toni meninggal ditembak Belanda ketika sedang mencoba pulang untuk menengok ibu
dan adik-adiknya.
Bukti: “Masya
Allah! Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.... Anakku sulung, anakku lanang
mati! Dan alangkah mudanya dia!” Tanpa bisa saya bendung air mata saya
berlelehan (Para Priyayi, 2003:202-203).
c. Komplikasi
Tahap
ini dapat dilihat ketika Sastrodarsono ditempeleng Tuan Sato. Sastrodarsono
dianggap tidak menghormati Jepang karena tidak mau membungkukkan badan
menghadap ke utara setiap pagi untuk menyembah dewa. Padahal bukan itu
permasalahannya, Sastrodarsono merasa tidak sanggup membungkuk karena usianya
yang telah senja. Tuan Sato kelihatan tidak puas dengan bungkuk Ndoro Guru
Kakung. Tiba-tiba tangan Tuan Sato melayang menempeleng kepala Ndoro Kakung.
Bukti : ”Darusono,
jerek, busuk. Genjimin bogero!” Sehabis mengumpat begitu Tuan Sato pergi dengan
diiringi yang lain-lainnya. Sesudah sepi ruang depan itu barulah ketegangan itu
terasa mereda. Tetapi, justru waktu itu saya lihat muka Ndoro Guru Kakung pucat
pasi, nglokro, lesu. Air matanya berlelehan keluar. Beliau menangis seperti
anak kecil (Para Priyayi, 2003: 129).
Selain itu, tahap komplikasi dapat dilihat ketika diketahui bahwa Marie hamil di luar nikah dengan Maridjan. Terlebih lagi, ternyata Maridjan telah menikah, mempunyai istri dan anak. Kejadian ini semakin membuat seluruh keluarga Noegroho terkejut, terutama Marie yang juga belum mengetahui
permasalahan ini.
Selain itu, tahap komplikasi dapat dilihat ketika diketahui bahwa Marie hamil di luar nikah dengan Maridjan. Terlebih lagi, ternyata Maridjan telah menikah, mempunyai istri dan anak. Kejadian ini semakin membuat seluruh keluarga Noegroho terkejut, terutama Marie yang juga belum mengetahui
permasalahan ini.
Bukti: “Heeh?!
Maridjan sudah punya istri dan anak? Asu, bajingan tengik Maridjan!” Bude Sus
hampir pingsan mendengar laporan saya. Pakde Noegroho merah padam mukanya.
Sedang Marie mukanya jadi pucat pasi, tegang, matanya memandang entah ke mana.
Tommi, yang biasa acuh tak acuh, kali itu ikut gelisah tidak menentu (Para
Priyayi, 2003: 248).
d. Klimaks
Harimurti menunggu dengan harap-harap cemas keluarganya menjemput Gadis, calon istrinya yang sedang hamil tua, dari penjara. Ternyata Gadis tersebut meninggal dunia karena terlalu cepat melahirkan. Kabar tersebut sangat mengejutkan bagi Hari.
Harimurti menunggu dengan harap-harap cemas keluarganya menjemput Gadis, calon istrinya yang sedang hamil tua, dari penjara. Ternyata Gadis tersebut meninggal dunia karena terlalu cepat melahirkan. Kabar tersebut sangat mengejutkan bagi Hari.
Bukti: “Oh, Allah,
Lee. Sudah nasibmu, Ngeer. Istrimu, Naak, istrimu sudah tidak ada....”Saya jadi
berdiri membatu. Tidak bisa menangis, tidak bisa apa-apa. Saya hanya mendengar
cerita ibu dan bapak saya. Gadis melahirkan terlalu cepat sepasang anak kembar
laki dan perempuan (Para Priyayi, 2003: 299).
e. Resolusi
e. Resolusi
Pada tahap resolusi, dapat dilihat
ketika Sastrodarsono (Embah Kakung) sakit karena usianya sudah lanjut yakni 83
tahun. Alur ini merupakan penurunan dari keseluruhan cerita karena semua
persoalan telah selesai. Sastrodarsono sebagai tokoh utama dalam cerita ini
diceritakan hampir menghadap Tuhan karena sakit-sakitan.
Bukti:
“Tiba-tiba kami mendapat surat kilat khusus dari Pakde Ngadiman bahwa Embah
Kakung semakin mundur kesehatannya. (Para Priyayi, 2003 :301).
f. Penyelesaian
Sementara
itu, tahap penyelesaian ditandai dengan meninggalnya tokoh Sastrodarsono.
Bukti:
“tepat pada waktu keluarga terakhir datang, yaitu Mbak Marie dan Mas Maridjan,
Embah Kakung meninggal, seda (Para Priyayi, 2003: 303)”.
Di dalam novel
ini juga terdapat kaidah alur, yaitu:
v Tegangan
(suspense)
dalam novel
ini terjadi ketika Harimurti menunggu dengan harap-harap cemas keluarganya
menjemput Gadis dari penjara.
v Kejutan (surprise)
ternyata
Gadis meninggal dunia karena terlalu cepat melahirkan. Kabar tersebut sangat
mengejutkan Harimurti dan seluruh keluarganya. Sementara itu, akhir cerita
novel Para Priyayi ini dapat dikatakan happy ending. Hal ini disebabkan setiap
tokohnya telah mendapatkan kebahagiaan, Marie telah hidup bahagia dengan
Maridjan dan Harimurti telah mendapat kebebasannya.
2.
TOKOH
DAN PENOKOHAN
·
Lantip
Tokoh Lantip digambarkan sebagai tokoh yang rajin, cekatan, taat, sabar, ulet, dan selalu menjadi andalan keluarganya. Bukti:
Tokoh Lantip digambarkan sebagai tokoh yang rajin, cekatan, taat, sabar, ulet, dan selalu menjadi andalan keluarganya. Bukti:
v “Wah, wong
anak desa sekecil kamu, kok ya cepet belajar mengatur rumah priyayi, lho,” kata
Lik Paerah (Para Priyayi, 2003: 19).
v “Apalagi apabila dia menyaksikan sendiri akan
keprigelan saya
mengerjakan tugas-tugas di rumah Setenan itu. “Wah, sokur to, Le, kamu sudah bisa cak-cek pegang apa-apa,” kata Embok (Para Priyayi, 2003:19).
mengerjakan tugas-tugas di rumah Setenan itu. “Wah, sokur to, Le, kamu sudah bisa cak-cek pegang apa-apa,” kata Embok (Para Priyayi, 2003:19).
v “Berapa kali
sudah saya kena coba kawan-kawan yang seperti biasanya selalu ingin menjajaki
kekuatan anak-anak baru. Tidak pernah saya ladeni. (Para Priyayi, 2003: 22)”
v “Setiap kali
saya ingat anak ini tidak habisnya saya mengucap syukur. Gusti Allah Maha Adil.
Anak jadah ini tumbuh sebagai anak yang sungguh baik dan amat berbakti kepada
semua keluarga kami (Para Priyayi, 2003: 233)”
·
Sastrodarsono
Sastrodarsono digambarkan sebagai tokoh yang patuh atau menurut saran dari orang tua. Sifat ini dapat dilihat ketika ia diberi nama tua. Dalam keluarga Jawa nama dibedakan menjadi dua, yaitu nama ketika masih anak-anak dan nama tua. Sastrodarsono menerima dengan kepatuhan ketika namanya yang Soedarsono diganti menjadi Sastrodarsono. Selain itu, ketika orang tua Sastrodarsono memilihkan jodoh untuknya, ia pun menerimanya dengan kepatuhan.
Sastrodarsono digambarkan sebagai tokoh yang patuh atau menurut saran dari orang tua. Sifat ini dapat dilihat ketika ia diberi nama tua. Dalam keluarga Jawa nama dibedakan menjadi dua, yaitu nama ketika masih anak-anak dan nama tua. Sastrodarsono menerima dengan kepatuhan ketika namanya yang Soedarsono diganti menjadi Sastrodarsono. Selain itu, ketika orang tua Sastrodarsono memilihkan jodoh untuknya, ia pun menerimanya dengan kepatuhan.
Bukti: “Karena itu sudah sepantasnya
kamu menyandang nama tua, Le. Nama Soedarsono, meskipun bagus, nama anak-anak.
Kurang pantas untuk nama tua. Namamu sekarang Sastrodarsono. Itu nama yang kami
anggap pantas buat seorang guru karena guru akan banyak menulis di samping
mengajar. Sastro rak artinya tulis to, Le?” Saya mengangguk, menerima dan
menyetujui, karena pada saat seperti itu hanya itulah yang dapat saya lakukan.
“Inggih, Pak.” (Para Priyayi, 2003:35).
·
Siti Aisah/Dik Ngaisah
Ngaisah adalah istri yang selalu
setia kepada suaminya. Ngaisah sering digoda anak dan menantunya tentang
kebaktiannya yang dianggap terlalu berlebihan kepada suami. Akan tetapi, ia
tidak pernah mengubah sikap terhadap suaminya.
Bukti: “Orang jawa mengatakan istri
adalah garwa, sigarane nyawa, yang berarti belahan jiwa. Maka sebagai belahan
jiwa bukankah saya mesti tidak boleh berpisah dari belahan yang satu lagi? (Para
Priyayi, 2003: 207)”.
·
Noegroho
Noegroho juga memiliki sikap pasrah, tabah, ikhlas dan suka menolong. Sikap ini ditunjukkan ketika anaknya yang pertama meninggal dunia karena tertembak tentara Belanda yang sedang patroli. Selain itu, sikap pasrah Noegroho ditunjukkan ketika ia mengetahui bahwa Lantip diangkat anak oleh Hardojo. Bukti:
Noegroho juga memiliki sikap pasrah, tabah, ikhlas dan suka menolong. Sikap ini ditunjukkan ketika anaknya yang pertama meninggal dunia karena tertembak tentara Belanda yang sedang patroli. Selain itu, sikap pasrah Noegroho ditunjukkan ketika ia mengetahui bahwa Lantip diangkat anak oleh Hardojo. Bukti:
v “Iya, iya,
Bu. Sing sabar ya, Bu. Ikhlas, Bu, kita ikhlaskan anak kita pergi ya, Bu.
Kalian juga ya, Marie dan Tommi, ikhlaskan kamas-mu pergi” (Para Priyayi, 2003:
204)
v “… kemudian
begitu saja keluar dari mulut saya: Bapak ikhlas, Le (Para Priyayi, 2003:
205)”.
v “Tapi, mau
bagaimana lagi. Lantip sudah diambil anak oleh Hardojo dan Hardojo sudah minta wanti-wanti
kepada kami semua agar Lantip kita perlakukan sama dengan anak-anak kami. Dan
juga Bapak dan Ibu sudah ikut merestui juga (Para Priyayi, 2003: 184)”.
v “Hari,
anakku. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang pakde daripada dapat
menolong kemenakannya. Ini kewajiban trah, kewajiban keturunan keluarga besar,
Le” (Para Priyayi, 2003: 285).
·
Hardojo
Hardojo adalah orang yang cerdas. Keberhasilannya dalam meniti karier tidak terlepas dari modal kualitas tokoh tersebut.
Hardojo adalah orang yang cerdas. Keberhasilannya dalam meniti karier tidak terlepas dari modal kualitas tokoh tersebut.
Bukti: “HARDOJO, anak saya yang
kedua, mungkin adalah anak saya yang paling cerdas dan mungkin paling disenangi
orang. Soemini sangat sayang kepadanya. Noegroho, yang cenderung paling serius
dari semua anak-anak saya, juga sangat dekat dengan adiknya itu, dan kami
orangtuanya selalu bisa dibikin menuruti kemauannya. Begitu jatmika, menarik
dan micara, tangkas dengan kata-kata anak itu. Tetapi, kenapa justru pada saat
dia harus memilih jodoh dia selalu membuat repot seisi rumah (ParaPriyayi, 2003:
93)”.
·
Harimurti
Harimurti sangat sayang dengan orang tuanya walaupun kadang berbeda pandangan, ia tetap menghormati orang tuanya. Ia juga memiliki sifat yang jujur dan tulus.
Harimurti sangat sayang dengan orang tuanya walaupun kadang berbeda pandangan, ia tetap menghormati orang tuanya. Ia juga memiliki sifat yang jujur dan tulus.
Bukti: “Saya diam tidak berusaha
meneruskan perdebatan dengan orang tua saya. Jelas kami sudah berbeda
pandangan. Dan perbedaan itu memang menandakan perbedaan pandangan antara
angkatan yang lain. Bagi mereka mungkin yang terpenting adalah gaya penampilan
karena itu dipandang sebagai pancaran jiwa dalam. Bagi saya tidak. Bagi saya
kejujuran dan ketulusan lebih penting. Gaya penampilan dapat dikembangkan
sambil berjalan (Para Priyayi, 2003: 268)”.
·
Mas Atmokasan: jujur dan tulus “Waktu orang tua saya
menyatakan hal itu kepada Ndoro Seten, dengan tersenyum mereka mengatakan bahwa
itu adalah hadiah mereka buat kejujuran dan ketulusan orang tua kami menggarap
sawah Ndoro Seten (Para Priyayi, 2003: 32)
·
Embah Martodikromo:
·
Ndoro Seten Kedungsimo:
·
Paman Mukaram:
·
Ndoro Seten Putri:
·
Ndoro School Opnizer:
·
Raden Supangat:
·
Keluarga Mansoer:
·
Pak Martokebo:
·
Dower Soedrajat:
·
Mantri Candra:
·
Romo Jeksa:
·
Soemini: keras “....Sus cantik dan lemah.. tidak
seperti anakmu, atos, keras (Para Priyayi, 2003:222)”.
·
Kamas Martoatmodjo:
·
Menir Soetarjo:
·
Menir Soerojo:
·
Mantri Guru Sumoroto:
·
Harjono: mengakui kesalahan “saya akui bahwa
hubunganku dengan Sri tidak sekedar sebagai teman biasa (Para Priyayi,
2003:215)
·
Ngadiman:
·
Soenandar:
·
Sri:
·
Darmin:
·
Mbakyu Suminah:
·
Mbaktu Marto:
·
Dik Nunuk:
·
Mbok Soemo:
·
Ngadiyem:
·
Tuan Sato: kasar “...tangan Tuan Sato melayang
menempeleng kepala ndoro guru kakung (Para Priyayi, 2003: )
·
Budhe Sus: baik, mudah sedih, mudah cemas “saya
memandang Marie dengan rasa cemas anak itu kog menurut pendapat saya agak
terlalu enteng memandang pekerjaan (Para Priyayi, 2003: 225)
·
Marie:
·
Tommy: pendiam
3.
LATAR
a.
Waktu:
novel ini
diawali pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1910, kemudian pendudukan
Jepang, awal Kemerdekaan hingga pemberontakan PKI. Cerita ini dimulai pada
tahun 1910 ketikaSastrodarsono mulai menapakkan kakinya ke jenjang priyayi.
Pada masa ini adalah masa penjajahan Belanda.
Bukti:
1. “waktu
itu sekitar tahun 1910 Masehi, daerah di sekitar desa-desa tersebut boleh dikata masih lebat hutannya
(Para Priyayi, 2003: 33)”.
2. “itu berarti
sayalah orang pertama dalam keluarga besar kami yang berhasil menjadi priyayi
(Para Priyayi, 2003: 29)”.
3. “sayang
bulan madu dengan Indonesia Rayaitu tidak berlangsung lama sebab lagu itu
bersama banyak hal lainnya kemudian dilarang oleh tentara Dai Nippon, tentara
yang membebaskan kita dari belenggu penjajahan Belanda (Para Priyayi, 2003:
124)”.
4. “pada
waktu pemberontakan PKI Muso di Madiun, kota Wanagalih sempat juga dilewati
prahara itu (Para Priyayi, 2003: 4)”.
b. Tempat:terdapat
beberapa latar tempat dalam novel ini dikarenakan adanya
pembagian episode, yaitu:
1.
Wanagalih
Wanagalih adalah nama ibukota kabupaten yang merupakan tempat tinggal Sastrodarsono dan Ngaisah. Tempat ini merupakan pusat berkumpulnya seluruh anggota keluarga Sastrodarsono.
Wanagalih adalah nama ibukota kabupaten yang merupakan tempat tinggal Sastrodarsono dan Ngaisah. Tempat ini merupakan pusat berkumpulnya seluruh anggota keluarga Sastrodarsono.
Bukti: “nama Lantip itu saya dapat kemudian waktu saya
mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono, di jalan Setenan, di kota
Wanagalih (Para Priyayi, 2003: 9)”.
2.
Wonogiri
Wonogiri sendiri merupakan tempat mengajar Hardojo. Hardojo berada di Wonogiri selama dua tahun. Beliau juga mendapatkan istri yang berasal dari daerah Wonogiri.
Wonogiri sendiri merupakan tempat mengajar Hardojo. Hardojo berada di Wonogiri selama dua tahun. Beliau juga mendapatkan istri yang berasal dari daerah Wonogiri.
Bukti: “tempat saya mengajar di HIS Wonogiri, yang
berjarak lebih kurang tiga puluh kilometer dari kota Solo....(Para Priyayi,
2003: 138)”.
3.
Solo
Solo merupakan tempat bekerja Hardojo setelah mendapat tawaran menjadi abdi dalem Mangkunegaran.
Solo merupakan tempat bekerja Hardojo setelah mendapat tawaran menjadi abdi dalem Mangkunegaran.
Bukti: “saya pun lantas menyetujui saran tersebut dan
berjanji untuk menyusul pada keesokan harinya ke Solo (Para Priyayi: 156)
4.
Yogyakarta
Yogyakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho sebelum pindah ke Jakarta. Pada masa penjajahan Belanda, ia bekerja sebagai guru HIS di Jetis Yogyakarta. Selain itu, Hardojo juga tinggal di Yogyakarta setelah ia kecewa dengan sikap Mangkunegaran yang memihak Belanda.
Yogyakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho sebelum pindah ke Jakarta. Pada masa penjajahan Belanda, ia bekerja sebagai guru HIS di Jetis Yogyakarta. Selain itu, Hardojo juga tinggal di Yogyakarta setelah ia kecewa dengan sikap Mangkunegaran yang memihak Belanda.
Bukti: “Kami pun lantas untuk sementara pindah lagi ke
Yogya ke rumah ibu Sus, yang menetap di Yogya sejak pensiunnya di Semarang.
Rumah itu tidak berapa besar, di bilangan Jetis, tidak jauh dari bekas sekolah
dasar, tempat saya mengajar dulu (Para Priyayi, 2003: 189)”.
5.
Jakarta
Jakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho. Ketika keluarga Noegroho terkena musibah, Marie hamil di luar nikah, Lantip ditugasi oleh Sastrodarsono dan Ngaisah untuk ikut Sus ke Jakarta dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain itu, keluarga Soemini, anak Sastrodarsono yang ketiga, juga tinggal di Jakarta.
Jakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho. Ketika keluarga Noegroho terkena musibah, Marie hamil di luar nikah, Lantip ditugasi oleh Sastrodarsono dan Ngaisah untuk ikut Sus ke Jakarta dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain itu, keluarga Soemini, anak Sastrodarsono yang ketiga, juga tinggal di Jakarta.
Bukti:
c.
suasana :
1. serius
“Tiba-tiba suasana jadi serius sekali (Para Priyayi, 2003:35)
2. menyedihkan
“Dan beliau menangis terisak-isak. Mukanya terlihat tersinggung betul (Para
Priyayi, 2003:129)
3. menegangkan
“Kami semua berdebar menunggu Dokter Waluyo memeriksa tubuh mbah kakung (Para
Priyayi, 2003:302)
4. mengecewakan
“Akan tetapi, sesudah sekolah itu berjalan dengan lumayan lancar, rupanya Gusti
Allah tidak mengizinkan saya untuk meneruskan usaha saya.... (Para Priyayi,
2003:108)
5. mengkhawatirkan
“hal yang kemudian mengkhawatirkan adalah perkembangan PKI dan pengaruhnya
dalam tubuh tentara terutama di solo (Para Priyayi, 2003:192)
6. emosi
“Amarah saya benar-benar meluap mendengar kebiadaban cara pasukan dan pengikut
PKI menduduki Wanagalih, membunuhi pamongpraja, para pemuka agama... (Para
Priyayi, 2003:193)
B.
SARANA
CERITA
1.
Judul:
Para Priyayi
Sesuai
dengan judulnya novel ini menceritakan tentang kisah hidup priyayi-priyayi pada
zaman dahulu. Perjuangan hidup untuk membangun satu generasi priyayi yang berasal dari
seorang petani. Kepriayian Sastrodarsono berusaha diturunkan kepada
anak-anaknya. Sastrodarsono dan Ngaisah berhasil mendidik anak-anaknya hingga
menjadi priayi-priayi modern yang berhasil. Sebenarnya novel ini juga
menunjukkan kekontrasan antara penikiran, kehidupan antara kaum kecil dengan
priyayi.
2.
Sudut
Pandang
Sudut
pandang pengarang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama. Sudut
pandang orang pertama ini terlihat pada setiap episode cerita. Pengarang
bertindak sebagai orang pertama yang sedang menuturkan pengalamannya. Sudut
pandang ini menempatkan pengarang sebagai “saya” atau “aku” dalam cerita. Pada
bagian Lantip, pengarang menjadi Lantip, pada bagian Sastrodarsono, pengarang
menjadi Sastrodarsono, dan seterusnya. Ini suatu cara bercerita yang menarik
karena pengarang menjadi beberapa tokoh sekaligus dalam satu rangkaian cerita.
Bukti:
1. “nama saya Lantip (Para Priyayi, 2003: 9)”.
2. “hari itu saya, Soedarsono, anak tunggal Mas
Atmokasan....(Para Priyayi, 2003: 29)”.
3. “waktu saya gagal kawin dengan Dik Ninuk, hidup
jadi seperti tanpa gairah lagi (Para Priyayi, 2003: 138)
4. “sesudah saya kembali dari Wanagalih untuk
menghibur Bapak yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan
Nippon....(Para Priyayi, 2003: 177)”.
3.
Gaya
dan Nada:
Dalam menuliskan novel
ini pengarang banyak menggunakan Bahasa Jawa yang digunakan untuk menuliskan
dialog antar tokoh. Bukan sekadar Bahasa Jawa biasa, melainkan Bahasa Jawa
Kromo Inggil (sangat halus), kromo (halus), dan ngoko (kasar). Contoh Bahasa Jawa
Kromo Inggil: inggih, sugeng dhahar, panjenengan, nyuwun sewu pangapunten, dan
lain-lain. Bahasa Jawa Kromo: nderek,. Bahasa Jawa Ngoko: wong ndeso, kleleran,
priye nduk, dan lain-lain. Selain banyak menggunakan Bahasa Jawa, penulis juga
banyak menggunakan tokoh dengan nama-nama jawa, seperti Sastrodarsono,
Ngadiyem, Soemini, Noegroho, Lantip, dan lain sebagainya. Karena banyak
menggunakan Bahasa Jawa, maka tidak semua pembaca dapat memahami cerita dari
novel tersebut. Mungkin hanya pembaca yang berlatarbelakang orang jawa saja
yang mampu memahami cerita secara keseluruhan.
C.
TEMA
Tema yang diangkat dalam novel “Para Priyayi” mengenai kehidupan keluarga
besar priyayi Jawa dan masalah-masalah yang ada didalamnya. Keluarga yang
dimaksud adalah keluarga Sastrodarsono. Masalah yang menonjol adalah masalah
pendidikan yang ikut menentukan status sosial dan mengangkat martabat seseorang
dalam masyarakat. Pendidikan ikut menentukan kepriyayian seseorang juga
kesanggupannya mengejawantahkan status kepriyayian itu dalam kehidupan ini,
terutama mempertanggungjawabkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Bukti: “....semangat kerukunan dan persaudaraan itu
yang terpenting....semangat pengabdian
kepada wong cilik....perjalanan mengabdi pada masyarakat banyak, terutama wong
cilik tidak akan ada habisnya (Para Priyayi, 2003: 333-335)”.
D. UNSUR PRAGMATIK
Novel ini sebagai NOVEL ESAI yang menyerupai album
besar yang didalamnya berisi kumpulan cerita yang membentuk satu kesatuan
cerita. Para Priyayi terdiri atas sepuluh bagian cerita yang salingberkaitan
dan saling melanjutkan dan melengkapi. Yang menjadi persoalan pembaca ketika
membaca novel ini adalah penggunaan kata-kata, idiom, dan ungkapan Jawa yang
terasa agak mengganggu bagi pembaca yang tidak mengerti Bahasa Jawa hingga pada
akhirnya memberi dampak kurang puas setelah membaca dan memahami novel yang serat
akan makna sosio-budayanya ini. Seharusnya pengarang memberikan catatan kaki
sehingga siapapun yang membaca novel ini akan paham dengan makna yang
terkandung di dalamnya secara komperehensif. Selain itu melalui novel ini kita
bisa tahu bahwa sebagai Bangsa Indonesia kita harus membela negara kita agar
tidak dijajah oleh bangsa lain.
E. UNSUR EKSTRINSIK
Novel ini menggambarkan sosial
masyarakat Jawa yang mempunyai adat dan kebiasaan yang cukup unik, khususnya
daerah Wanagalih (Ngawi) Jawa Timur. Hal ini tidak terlepas dari sosial budaya
pengarang yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Pengarang sepertinya telah paham
betul akan kehidupan priyayi-priyayi pada masa itu. Seakan-akan pengarang mampu
menceritakan secara detail lika-liku kehidupan ketika itu. Kebudayaan Jawa yang
ditampilkan dalam novel ini begitu halus dan lembut penyampaiannya sehingga
tidak semua orang dapat memahaminya. Selain itu, kebudayaan di keraton
Mangkunegaran Surakarta pun ikut ditampilkan dalam novel ini. Mangkunegaran
merupakan tempat bekerja Hardojo sehingga dalam novel ini juga diceritakan
mengenai kebudayaan di Surakarta.
Selain itu di dalam novel ini juga terdapat unsur keagamaan. Hal ini dapat
terlihat ketika menceritakan bahwa pernikahan beda agama itu tidak
diperbolehkan. Buktinya terdapat pada BAB HARDOJO yang menceritakan Hardojo
gagal menikah dengan Dek Nunuk karena mereka beda agama. Hardojo beragama
Islam, sedangkan Dek Nunuk beragama Katolik. Bukti lain yang menunjukkan bahwa
di dalam novel ini terdapat unsur keagamaan adalah ketika si tokoh banyak
mengucapkan kalimat-kalimat yang intinya mengagungkan nama Tuhan.
F. BIOGRAFI PENGARANG
UMAR KAYAM
adalah sastrawan yang sosiolog, atau sosiolog yangsastrawan. Ayah Umar Kayam
adalah seorang guru Hollands Inlands School (HIS) . Lahir 30 April 1932, di
Ngawi Jawa Timur. Menempuh pendidikan di HIS Mangkunegoro Surakarta, di mana
ayahnya juga mengajardi sana. Di sekolah tersebut dia berteman akrab dengan
Kliwir panggilan akrab Wiratmo Sukito, salah seorang tokoh MANIKEBU Gelanggang
Tahun 60-an. Setelah itu, dia melanjutkan sekolah di MULO (setingkat dengan
SMP),dan melanjutkan SMA bagian bahasa (bagian A) di Yogyakarta. Lulus dari SMA
tahun 1951, Umar Kayam atau biasa dipanggil UK melanjutkan pendidikan di
Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1955 UK
melanjutkan studinya ke University School of Education,USA (1963). Setelah
mendapatkan gelar Master of Education di Univerasitasini, UK melanjutkan
program doktoralnya ke Cornell University, USA
(1965)dengan desertasi
“Aspect of
Interdepartemental Coordination Problems inIndonesian Community
Development ”.Semasa kecil, UK sudah akrab sekali dengan dunia membaca.
Saat masih duduk di sekolah setingkat SD, UK terbiasa dengan bacaan-bacaan
dongeng,dan pelajaran-pelajaran yang terkait cerita dalam bahasa Belanda. Saat
duduk di MULO—setingkat dengan SMP—UK sudah akrab sekali dengan Gonewith the
Wind serta novel-novel yang lain. Pada saat SMA, beberapa diantara
teman-temannya saat itu adalah Nugroho Notosusanto dan Daoed Joesoef yang
kelak (kedua-duanya) menjadi Menteri Pendidikan. UK mengelola majalah
dinding sebagai medan untuk mengeksplorasi karya-karya sastranya. Di tempat ini
pula, UK membincangkan karya sastra Tagore, Amir Hamzah, Sutan Takdir
Alisjahbana, dan karya-karya yang lain. Cerpen “Bunga Anyelir” merupakan cerpen
pertama UK yang dimuat di sebuah majalah di Jakarta dan itu ditulisnya saat
masih duduk dibangku SMA. Saat Mahasiswa, UK aktif dalam berbagai kegiatan
kemahasiswaan dan tentu saja dunia kesastraan saat itu. Salah satunya, UK
adalah perintis “Universitaria” di RRI Nusantara II Yogyakarta yang menyajikan berbagai
informasi kegiatan mahasiswa. Selain itu, UK juga mendirikan majalah minggu dan
berbagai kegiatan yang lain, terutama terkait dengan kebudayaan.Selanjutnya,
saat kuliah di USA, UK juga aktif menulis karya sastra yang dikirimkan ke
berbagai media di Indonesia. Hingga kemudian, sepulangnya di Indonesia, UK
ditunjuk sebagai Direktur Jendral Radio, Televisi dan Film Departemen
Penerangan RI (1966-1969). Pada tahun 1969, UK terpilih untuk menjabat sebagai
ketua Dewan Kesenian Jakarta. Dan pada saat yang bersamaan, UK juga menjabat
sebagai Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (Sekarang IKJ) dan juga
menjabat sebagai anggota
Board of
Trustee International Broadcast Institute yang bermarkas di Roma.Selain sebagai
seorang sastrawan, UK juga merupakan pemain Film. Tercatat, dia pernah
menjadi salah satu pemain dalam Film Karmila yang disutradarai oleh Ami
Priyono, UK juga pernah memerankan sosok Bung Karno dalam Film G-30-S/PKI yang
disutradarai Arifin C Noor. Beliau berperan sebagai Pak Bei dalam Canting,
sinetron yang diangkat dari Novel Arswendo Atmowiloto. Kariernya sebagai
akademisi dan iluwan, UK tercatatat pernah menjabat sebagai Direktur Pusat
Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin,Ujung Pandang (1975-1976),
Direktur Pusat Studi Kebudayaan UGM (1977-1997), Dosen Pasca Sarjana, Jurusan
Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1998-2001). Pada tahun
1989, dia mendapatpengukuhan sebagai Guru Besar di UGM. UK menikah dengan
Rooslina Hanoum dan dikaruniai dua orang putri: Sita Aripurnami dan Wulan
Anggraini (Sumber: B Rahmanto, Umar Kayam dan Duniannya, 2004)
Komentar
Posting Komentar