Langsung ke konten utama

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI

SINOPSIS
Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang.
Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer dari kota Wanagalih.Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut.
Lantip selalu ikut membantu menyiapkan dagangan tempe, dan ikut menjajakan nya berjalan di samping atau di belakang Mboknya menyelusuri jalan dan lorong kota. Lantip ingat bahwa dalam perjalan itu sengatan terik matahari Wanagalih. Wanagalih memang terkenal sangat panas dan rasa haus yang benar-benar mengeringkan tengorokan. Sekali waktu Lantip pernah merengek kepada Emboknya untuk dibelikan jajanan. Dengan ketus Emboknya menjawab dengan “Hesy! Ora usah”, dan Lantip pun terdiam. Lantip tahu Emboknya, meskipun murah hati juga sangat hemat dan tegas. Dia akan lebih senang  bila kami melepas haus di sumur pojok alun-alun atau bila beruntung dapat sekedar air teh di rumah langganan Emboknya. Salah satu langganan Emboknya yang murah hati itu adalah keluarga Sastrodarsono. Mereka dipanggil oleh keluarga Sastrodarsono. Mereka menyebutnya dengan “Ndoro Guru” dan “Ndoro Guru Putri”. Waktu mereka melihat Embok datang membawa Lantip, Ndoro Guru menanyakan dengan nada suara sangatlah ulem-nya dan penuh wibawa.
“Lho, Yu, kok anakmu kamu bawa?”


“Inggih, Ndoro. Di rumah tidak ada orang yang menjaga tole.”
“Lha, kasian begitu. Anak sekecil itu kamu eteng-eteng ke mana-mana.”
“Habis bagaimana lagi, Ndoro.”
Lantip ingat bagaimana kedua suami-istri itu memandang mereka lama-lama. Lantip hanya menundukkan kepala saat percakapan berlangsung. Untuk seorang anak desa yang baru berumur enam tahun, dan anak bakul tempe yang sederhana, tidak mungkin ada keberanian baginya untuk mendongak ke atas, menatap muka priyayi-priyayi itu.Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak  pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.  
Dalam rumah tangga Ndoro guru, di samping harus membesarkan anak-anaknya, juga menampung beberapa kemenakan. Dengan kata lain rumah tangga Ndoro guru adalah rumah tangga khas priyayi jawa. Sang priyayi adalah juga soko guru keluarga besar yang berkewajiban menampung sebanyak mungkin anggota keluarga –jaringan itu ke dalam rumah tangganya. Rezeki dan pangkat itu jangan  dimakan sendiri, tidak pantas, saru, bila ada seseorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai, jadi gelandangan, tidak menikmati pendidikan. Begitu sering saya dengar Ndoro guru menasehati anak-anaknya dan siapa saja. Pada suatu sore sesudah persinggahan rutin mereka di jalan Setenan, mereka duduk di amben di depan rumah mereka di Wanalawas. Emboknya kemudian mendudukan Lantip dihadapannya.
“Wage, Le, anakku yo, engger. Kamu sekarang sudah besar sudah enam tahun. Sudah waktunya kamu pergi dari desa yang kecil dan sumpek ini.”
“Pergi, Embok? Kita akan pergi?”
“Bukan kita. Kamu sendiri, Le.”
 “Saya harus pergi ka mana, Embok?”
 “Kamu akan nderek, ikut Ndoro Guru di Setenan, Le.”
 “Kamu nderek Ndoro Guru supaya lekas pinter, lekas sekolah.”
Suatu hari sesudah Lantip tinggal bersama keluarga Sastrodarsono, Mbok berkunjung untuk menengok Lantip. Trdengar Ndoro Guru kakung menyatakan keinginannya agar Lantip disekolahkan karena waktu itu Lantip sudah berusia hampir tujuh tahun. Mereka juga mengusulkan agar  mengganti nama Wage menjadi Lantip yang artinya cerdas, tajam otaknya.Tidak terasa Lantip sudah duduk di  kelas lima dan sudah membayangkan setahun lagi akan tamat sekolah Desa Karangdompol. Setamat sekolah akan banyak kesempatan meneruskan sekolah ke sekakel, schakel school kata orang Belanda, yaitu sekolah peralihan yang tujuh tahun lamanya. Lantip membayangkan setelah tamat sekolah  akan bekerja dan dapat membalas budi Emboknya dan keluarga Ndoro Guru Sastrodarsono. Tapi, tiba-tiba datang kegoncangan itu! Pak dukuh datang dari Wanalawas dengan tergopoh-gopoh mengabarkan Emboknya meninggal karena keracunan jamur. Saat itu bagaimana hancur dan sedihnya hati Lantip.
Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia  hanya bekerja sebagai  guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi. Mereka tinggal setahun di Ploso yang kemudian membeli rumah kecil  di jalan Satenan. Segera setelah mereka menempati rumah itu, Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan tempat tinggal itu sebagaimana rumah tangga yang mereka  inginkan yaitu rumah tangga priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono, dan juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih untuk menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan sawah yang ada di belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun rumah tangga priyayi, mereka tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi priyayi itu adalah menjadi orang terpandang kedudukannya di masyarakat bukan jadi orang kaya, tapi karena kepinterannya.
Anak-anak mereka lahir dalam jarak dua tahun antara seorang dengan yang lain. Noegroho anak yang paling tua, kemudian menyusul kelahiran adik-adik Noegroho, Hardojo dan Soemini. Anak-anaknya mereka masukan ke sekolah HIS, sekolah dasar untuk anak-anak priyayi, kemudian meneruskan pelajaran ke sekolah menengah atas priyayi, seperti MULO, AMS atau sekolah-sekolah guru menengah, seperti Sekolah Normaal, Kweek Sekul dan sebagainya. Menurut meneer Soetardjo dan meneer Soerojo di sekolahnya anak-anak mereka itu rata-rata bagus dalam bahasa Belanda dan berhitung, anak-anak meraka maju dan pintar di sekolah.  Noegroho sangat senang dan kuat dalam sejarah dan ilmu bumi, Hardojo kuat dalam bahasa Belanda, mengarang dan berhitung, Soemini sangat fasih dalam bahasa Belandanya. Dalam perkembangan pembangunan keluarganya, mereka tidak hanya membatasi mengurus keluarga mereka saja, mereka juga sangat memperhatikan anggota keluarga yang jauh baik dari Sastrodarsono maupun dari keluarga Dik Ngaisah. Ngadiman, anak dari sepupu Sastrodarsono dititipkan pada keluarganya untuk disekolahkan di HIS dan berhasil menjadi priyayi walaupun hanya priyayi rendahan yaitu  bekerja sebagai juru tulis di kabupaten. Begitu juga dengan kemenakan lain seperti Soenandar, Sri dan Darmin, semuanya mereka sekolahkan di HIS.
Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang.Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar  bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar.
Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya  anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya  adalah gerombolan perampok. Selain itu juga sekarang Lantip mengerti mengapa keluarga Sastrodarsono sangat memperhatikan kehidupannya dan Ngadiyem Emboknya, karena Soenandar, yang  ayahnya Lantip itu, adalah masih tergolong keluarga dari Sastrodarsono.
Dalam mendidik dan membesarkan keponakan-keponakannya Sastrodarsono merasa tidak berhasil bila dibandingkan dengan anak-anak kandungnya, mereka mandapat pendidikan dan pekerjaan serta kedudukan yang baik. Soemini yang sudah berumur dua belas tahun dan baru duduk di kelas lima. Dua tahun lagi dia sudah kelas tujuh umurnya empat balas tahun, dan sesudah tamat umurnya sudah dekat dengan lima belas tahun. Maka sudah sepantasnya dicarikan jodoh yang pantas buat Soemini. Soemini menikah dengan Raden Harjono, seorang mantri polisi, anak tunggal Kamas Soemodiwongso.Keluarga Sastrodarsono sangat terkesan dengan perilaku Raden Harjono yang sopan, luwes, ngganteng, baik hati, dan cerdas.
Dalam rumah tangganya Soemini mendapat goncangan karena mengetahui suaminya Harjono selingkuh dengan perempuan yang bekerja sebagai penyanyi keroncong Sri Asih. Ia mengadu kepada Sastrodarsono. Tetapi akhirnya dapat terselesaikan. Hardojo anak kedua Sastrodarsono, anak yang paling cerdas dan yang paling banyak disenangi orang. Sekarang seperti adiknya, Soemini, sudah mapan mau membangun rumah tangga di tempatnya ia mengajar di Yogya dengan seorang guru tamatan kweekschool tetapi beragama Katholik. Orang tuanya, orang baik-baik, priyayi, guru di sekolah HIS katolik di Solo. Tetapi keinginan menikah dengan Dik Nunuk yang nama lengkapnya adalah Maria Magdalena Sri Moerniati begitu nama calon istri Nugroho, guru sekolah dasar khusus untuk anak perempuan di kampung Beskalan  ditolak oleh keluarga Sastrodarsono yang keluarganya beragama Islam.
Setelah kegagalan menikah dengan Dik Nunuk hidup Hardojo merasa tidak bergairah lagi. Prilaku dan sifat Dik Nunuk selalu membayangi kehidupannya dan apabila ia teringat dengan Nunuk ia selalu mampir kepada Bude Suminahdi Penumping, sekedar membicarakan masa lalunya dengan Nunuk, karena berkat Bude Suminah itulah kedekatannya dengan Nunuk.
Pada suatu sore Hardojo sedang memimpin murid-murid kelas tujuh bermain kasti. Seperti biasa mereka bermain dengan gembira dan penuh gurauan. Kemudian giliran Soemarti yang memukul bola, tetapi saat berlari menuju hong  kakinya terporosok dan jatuh. Soemarti mengaduh kesakitan dan cepat mendapat pertolongan Hardojo. Sejak kejadian itu Hardojo lebih sering berkunjung ke rumah Soemarti anak tunggal keluarga priyayi Brotodinomo seorang pensiunan panewu, kira-kira sederajat dengan asisten wedana di Wonogiri. Yang akhirnya mereka menikah dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki yang bernama Harimurti.
Sesudah Noegroho kembali ke Wanagalih untuk menghibur bapaknya yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon, hal ini dikarena bapaknya meras tidak sanggup untuk mematuhi aturan pemerintahan Jepang yang mengharuskan mereka membungkukkan badan untuk menghormati matahari. Seperti biasa Noegroho kembali bekerja di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis sekolah pada jaman Jepang gouverment’s HIS Jetis. Tetapi tanpa di duga Noegroho mendapat panggilan terpilih untuk ikut tentara peta atau Pembela tanah Air, dan segera berangkat ke Bogor untuk menjalani latihan dan saringan yang nantinya dapat ditempatkan di daidan-daidan atau batalyon-batalyon di Jawa.
Dalam mengurus rumah tangganya Noegroho tidak berhasil seperti kedudukannya yang priyayi yang terhormat dikalangan masyarakat seperti yang diharapkan oleh Sastrodarsono, karena Marie anak perempuan Noegroho hamil sebelum menikah. Maridjan, laki-laki yang menghamilinya, adalah laki-laki miskin, orang desa, kehidupannya pun cukup dengan mengontrak. Yang lebih parahnya lagi Maridjan itu pernah memiliki hubungan dengan pembantu kostnya sampai akhirnya menikah dan pada saat kenal dengan Marie, Maridjan dalam kasus perceraian. Tetapi berkat bantuan Lantip dan Hari akhirnya Maridjan menikahiMarie.Persiapan pernikahan Marie dikalutkan dengan meninggalnya Mbah Putri. Saat pernikahan Marie, Sastrodarsono tidak dapat menghadirnya karena masih terlihat lemas mengurusi meninggalknya Mbah Putri. Gus Hari anak tunggalnya Hardojo sudah diduga sejak kecil tumbuh sebagai pemuda yang peka, gampang menaruh belas kepada penderitaan orang. Dia sangat cerdas dan banyak menaruh perhatian pada bidang kesenian. Tetapi walaupun ia keluaran dari suatu perguruan tinggi dalam kehidupannya tidak memanfaatkan hasil kuliahnya itu tetapi ia bergabung dengan lekra kesenian wayang.
Dalam kesempatan itulah Hari pun berkenalan dengan Gadis seorang penulis yang memiliki nama asliRetno Dumilah yang menjadi pacarnya, karena kedekatannya itu sampai mereka pun melakukan perbuatan yang dilarang agama sampai akhirnya Gadis pun hamil. Mengetahui hal itu Hari sangat ingin segera menikahi Gadis. Pada waktu pertunangan Lantip dengan Halimah kesempatan itu dipergunakan Hari untuk memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarga besar Sastrodarsono.
Pada suatu waktu mereka mengadakan pawai yang meneriakan dukungannya kepada Dewan Revolusi, Hari bersama Gadis  yang sama-sama tergabung dalam kesenian terperangkap, karena pada saat itu ABRI sedang mengambil alih mengadakan pembersihan terhadap semua anggota PKI dan ormas-ormasnya.
“Hari, kamu dalam bahaya. Sebaiknya kamu jangan lari. Nanti kita cari jalan yang sebaiknya agar kau bisa selamat.”
“Saya memang tidak akan lari. Saya akan jelaskan semuanya jika ditangkap, saya kan bukan anggota PKI?”
Dalam keadaan gawat seperti itu Lantip memberikan saran agar sebaiknya Hari meyerahkan dirinya, dan nanti bisa meminta bantuan pada Pakde Nugroho untuk pembebasannya. Sementara Gadis pun tertangkap dan dianggapnya sebagai gerwani, ia hamil dalam penjara sampai akhirnya meninggal saat akan melahirkan bayi kembar laki-laki dan perempuan. Sepeninggalan Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang pada akhirnya membuat ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu.Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya. Hari turut serta mengikuti kangmasnya.






A.    FAKTA CERITA
1.      ALUR
Secara keseluruhan novel “Para Priyayi” karya Umar Kayam tidak menggunakan alur maju, alur mundur, ataupun alur campuran karena novel ini terdiri dari beberapa episode, yaitu tentang : Wanagalih, Lantip,Sastrodarsono, Lantip, Hardojo, Noegroho, Para Istri, Lantip, Harimurti, dan Lantip. Masing-masing episode ini membentuk alurnya sendiri-sendiri. Akan tetapi, antara episode yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan yang erat. Lantip merupakan penghubung antara episode yang satu dengan yang lain. Dengan adanya pembagian episode ini, para tokoh diberi kesempatan untuk menuturkan dirinya sendiri bahkan menilai tokoh lain. Oleh karena setiap episode membentuk alurnya sendiri-sendiri, tahapan alur tidak dapat digambarkan secara jelas.
Berikut ini adalah tahapan alur novel “Para Priyayi” secara keseluruhan:
a.    Tahap Perkenalan
Tahap ini dilukiskan mengenai latar tempat yang menjadi pusat cerita dalam novel ini, yaitu Wanagalih. Tahap perkenalan ini diceritakan oleh tokoh Lantip. Kemudian, diceritakan keadaan Lantip pada masa kanak-kanak dengan ibunya yang berjualan tempe. Ketika itu Lantip diceritakan belum mengetahui ayah kandungnya.
Bukti: “Ayah saya... wah, saya tidak pernah mengenalnya. Embok selalu mengatakan ayah saya pergi jauh untuk mencari duit (Para Priyayi, 2003: 10)”.
                                       
b. Pemunculan Konflik
            Pemunculan konflik dapat dilihat ketika Sastrodarsono mengalami konflik intern tentang penentuan sikap kepriayiaannya. Sastrodarsono mulai menemukan gaya kepriayiannya dan berhadapan dengan model pemikiran priayi lain. Hal ini terjadi ketika Sastrodarsono ditunjuk untuk menggatikan Martoatmodjo sebagai kepala sekolah desa Karangdompol. Suatu siang ada seorang kurir dari kota yang membawa berita bahwa Toni meninggal ditembak Belanda ketika sedang mencoba pulang untuk menengok ibu dan adik-adiknya.
Bukti: “Masya Allah! Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.... Anakku sulung, anakku lanang mati! Dan alangkah mudanya dia!” Tanpa bisa saya bendung air mata saya berlelehan (Para Priyayi, 2003:202-203).

c. Komplikasi
            Tahap ini dapat dilihat ketika Sastrodarsono ditempeleng Tuan Sato. Sastrodarsono dianggap tidak menghormati Jepang karena tidak mau membungkukkan badan menghadap ke utara setiap pagi untuk menyembah dewa. Padahal bukan itu permasalahannya, Sastrodarsono merasa tidak sanggup membungkuk karena usianya yang telah senja. Tuan Sato kelihatan tidak puas dengan bungkuk Ndoro Guru Kakung. Tiba-tiba tangan Tuan Sato melayang menempeleng kepala Ndoro Kakung.
Bukti : ”Darusono, jerek, busuk. Genjimin bogero!” Sehabis mengumpat begitu Tuan Sato pergi dengan diiringi yang lain-lainnya. Sesudah sepi ruang depan itu barulah ketegangan itu terasa mereda. Tetapi, justru waktu itu saya lihat muka Ndoro Guru Kakung pucat pasi, nglokro, lesu. Air matanya berlelehan keluar. Beliau menangis seperti anak kecil (Para Priyayi, 2003: 129).
Selain itu, tahap komplikasi dapat dilihat ketika diketahui bahwa Marie hamil di luar nikah dengan Maridjan. Terlebih lagi, ternyata Maridjan telah menikah, mempunyai istri dan anak. Kejadian ini semakin membuat seluruh keluarga Noegroho terkejut, terutama Marie yang juga belum mengetahui
permasalahan ini.
Bukti: “Heeh?! Maridjan sudah punya istri dan anak? Asu, bajingan tengik Maridjan!” Bude Sus hampir pingsan mendengar laporan saya. Pakde Noegroho merah padam mukanya. Sedang Marie mukanya jadi pucat pasi, tegang, matanya memandang entah ke mana. Tommi, yang biasa acuh tak acuh, kali itu ikut gelisah tidak menentu (Para Priyayi, 2003: 248).

d. Klimaks                     
Harimurti menunggu dengan harap-harap cemas keluarganya menjemput Gadis, calon istrinya yang sedang hamil tua, dari penjara. Ternyata Gadis tersebut meninggal dunia karena terlalu cepat melahirkan. Kabar tersebut sangat mengejutkan bagi Hari.
Bukti: “Oh, Allah, Lee. Sudah nasibmu, Ngeer. Istrimu, Naak, istrimu sudah tidak ada....”Saya jadi berdiri membatu. Tidak bisa menangis, tidak bisa apa-apa. Saya hanya mendengar cerita ibu dan bapak saya. Gadis melahirkan terlalu cepat sepasang anak kembar laki dan perempuan (Para Priyayi, 2003: 299).

e. Resolusi
            Pada tahap resolusi, dapat dilihat ketika Sastrodarsono (Embah Kakung) sakit karena usianya sudah lanjut yakni 83 tahun. Alur ini merupakan penurunan dari keseluruhan cerita karena semua persoalan telah selesai. Sastrodarsono sebagai tokoh utama dalam cerita ini diceritakan hampir menghadap Tuhan karena sakit-sakitan.
Bukti: “Tiba-tiba kami mendapat surat kilat khusus dari Pakde Ngadiman bahwa Embah Kakung semakin mundur kesehatannya. (Para Priyayi, 2003 :301).

f.  Penyelesaian
Sementara itu, tahap penyelesaian ditandai dengan meninggalnya tokoh Sastrodarsono.
Bukti: “tepat pada waktu keluarga terakhir datang, yaitu Mbak Marie dan Mas Maridjan, Embah Kakung meninggal, seda (Para Priyayi, 2003: 303)”.

Di dalam novel ini juga terdapat kaidah alur, yaitu:
v  Tegangan (suspense)
dalam novel ini terjadi ketika Harimurti menunggu dengan harap-harap cemas keluarganya menjemput Gadis dari penjara.
v  Kejutan (surprise)
ternyata Gadis meninggal dunia karena terlalu cepat melahirkan. Kabar tersebut sangat mengejutkan Harimurti dan seluruh keluarganya. Sementara itu, akhir cerita novel Para Priyayi ini dapat dikatakan happy ending. Hal ini disebabkan setiap tokohnya telah mendapatkan kebahagiaan, Marie telah hidup bahagia dengan Maridjan dan Harimurti telah mendapat kebebasannya. 


2.      TOKOH DAN PENOKOHAN
·         Lantip
Tokoh Lantip digambarkan sebagai tokoh yang rajin, cekatan, taat, sabar, ulet, dan selalu menjadi andalan keluarganya. Bukti:
v  “Wah, wong anak desa sekecil kamu, kok ya cepet belajar mengatur rumah priyayi, lho,” kata Lik Paerah (Para Priyayi, 2003: 19).
v   “Apalagi apabila dia menyaksikan sendiri akan keprigelan saya
mengerjakan tugas-tugas di rumah Setenan itu. “Wah, sokur to, Le, kamu sudah bisa cak-cek pegang apa-apa,” kata Embok (Para Priyayi, 2003:19).
v  “Berapa kali sudah saya kena coba kawan-kawan yang seperti biasanya selalu ingin menjajaki kekuatan anak-anak baru. Tidak pernah saya ladeni. (Para Priyayi, 2003: 22)”
v  “Setiap kali saya ingat anak ini tidak habisnya saya mengucap syukur. Gusti Allah Maha Adil. Anak jadah ini tumbuh sebagai anak yang sungguh baik dan amat berbakti kepada semua keluarga kami (Para Priyayi, 2003: 233)”
·         Sastrodarsono
Sastrodarsono digambarkan sebagai tokoh yang patuh atau menurut saran dari orang tua. Sifat ini dapat dilihat ketika ia diberi nama tua. Dalam keluarga Jawa nama dibedakan menjadi dua, yaitu nama ketika masih anak-anak dan nama tua. Sastrodarsono menerima dengan kepatuhan ketika namanya yang Soedarsono diganti menjadi Sastrodarsono. Selain itu, ketika orang tua Sastrodarsono memilihkan jodoh untuknya, ia pun menerimanya dengan kepatuhan.
Bukti: “Karena itu sudah sepantasnya kamu menyandang nama tua, Le. Nama Soedarsono, meskipun bagus, nama anak-anak. Kurang pantas untuk nama tua. Namamu sekarang Sastrodarsono. Itu nama yang kami anggap pantas buat seorang guru karena guru akan banyak menulis di samping mengajar. Sastro rak artinya tulis to, Le?” Saya mengangguk, menerima dan menyetujui, karena pada saat seperti itu hanya itulah yang dapat saya lakukan. “Inggih, Pak.” (Para Priyayi, 2003:35).
·         Siti Aisah/Dik Ngaisah
Ngaisah adalah istri yang selalu setia kepada suaminya. Ngaisah sering digoda anak dan menantunya tentang kebaktiannya yang dianggap terlalu berlebihan kepada suami. Akan tetapi, ia tidak pernah mengubah sikap terhadap suaminya.
Bukti: “Orang jawa mengatakan istri adalah garwa, sigarane nyawa, yang berarti belahan jiwa. Maka sebagai belahan jiwa bukankah saya mesti tidak boleh berpisah dari belahan yang satu lagi? (Para Priyayi, 2003: 207)”.
·         Noegroho
Noegroho juga memiliki sikap pasrah, tabah, ikhlas dan suka menolong. Sikap ini ditunjukkan ketika anaknya yang pertama meninggal dunia karena tertembak tentara Belanda yang sedang patroli. Selain itu, sikap pasrah Noegroho ditunjukkan ketika ia mengetahui bahwa Lantip diangkat anak oleh Hardojo. Bukti:
v  “Iya, iya, Bu. Sing sabar ya, Bu. Ikhlas, Bu, kita ikhlaskan anak kita pergi ya, Bu. Kalian juga ya, Marie dan Tommi, ikhlaskan kamas-mu pergi” (Para Priyayi, 2003: 204)
v  “… kemudian begitu saja keluar dari mulut saya: Bapak ikhlas, Le (Para Priyayi, 2003: 205)”.
v  “Tapi, mau bagaimana lagi. Lantip sudah diambil anak oleh Hardojo dan Hardojo sudah minta wanti-wanti kepada kami semua agar Lantip kita perlakukan sama dengan anak-anak kami. Dan juga Bapak dan Ibu sudah ikut merestui juga (Para Priyayi, 2003: 184)”.
v  “Hari, anakku. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang pakde daripada dapat menolong kemenakannya. Ini kewajiban trah, kewajiban keturunan keluarga besar, Le” (Para Priyayi, 2003: 285).
·         Hardojo
Hardojo adalah orang yang cerdas. Keberhasilannya dalam meniti karier tidak terlepas dari modal kualitas tokoh tersebut. 
Bukti: “HARDOJO, anak saya yang kedua, mungkin adalah anak saya yang paling cerdas dan mungkin paling disenangi orang. Soemini sangat sayang kepadanya. Noegroho, yang cenderung paling serius dari semua anak-anak saya, juga sangat dekat dengan adiknya itu, dan kami orangtuanya selalu bisa dibikin menuruti kemauannya. Begitu jatmika, menarik dan micara, tangkas dengan kata-kata anak itu. Tetapi, kenapa justru pada saat dia harus memilih jodoh dia selalu membuat repot seisi rumah (ParaPriyayi, 2003: 93)”.
·         Harimurti
Harimurti sangat sayang dengan orang tuanya walaupun kadang berbeda pandangan, ia tetap menghormati orang tuanya. Ia juga memiliki sifat yang jujur dan tulus.
Bukti: “Saya diam tidak berusaha meneruskan perdebatan dengan orang tua saya. Jelas kami sudah berbeda pandangan. Dan perbedaan itu memang menandakan perbedaan pandangan antara angkatan yang lain. Bagi mereka mungkin yang terpenting adalah gaya penampilan karena itu dipandang sebagai pancaran jiwa dalam. Bagi saya tidak. Bagi saya kejujuran dan ketulusan lebih penting. Gaya penampilan dapat dikembangkan sambil berjalan (Para Priyayi, 2003: 268)”.
·         Mas Atmokasan: jujur dan tulus “Waktu orang tua saya menyatakan hal itu kepada Ndoro Seten, dengan tersenyum mereka mengatakan bahwa itu adalah hadiah mereka buat kejujuran dan ketulusan orang tua kami menggarap sawah Ndoro Seten (Para Priyayi, 2003: 32)
·         Embah Martodikromo:
·         Ndoro Seten Kedungsimo:
·         Paman Mukaram:
·         Ndoro Seten Putri:
·         Ndoro School Opnizer:
·         Raden Supangat:
·         Keluarga Mansoer:
·         Pak Martokebo:
·         Dower Soedrajat:
·         Mantri Candra:
·         Romo Jeksa:
·         Soemini: keras “....Sus cantik dan lemah.. tidak seperti anakmu, atos, keras (Para Priyayi, 2003:222)”.
·         Kamas Martoatmodjo:
·         Menir Soetarjo:
·         Menir Soerojo:
·         Mantri Guru Sumoroto:
·         Harjono: mengakui kesalahan “saya akui bahwa hubunganku dengan Sri tidak sekedar sebagai teman biasa (Para Priyayi, 2003:215)
·         Ngadiman:
·         Soenandar:
·         Sri:
·         Darmin:
·         Mbakyu Suminah:
·         Mbaktu Marto:
·         Dik Nunuk:
·         Mbok Soemo:
·         Ngadiyem:
·         Tuan Sato: kasar “...tangan Tuan Sato melayang menempeleng kepala ndoro guru kakung (Para Priyayi, 2003: )
·         Budhe Sus: baik, mudah sedih, mudah cemas “saya memandang Marie dengan rasa cemas anak itu kog menurut pendapat saya agak terlalu enteng memandang pekerjaan (Para Priyayi, 2003: 225)
·         Marie:
·         Tommy: pendiam

3.      LATAR
a.      Waktu: novel ini diawali pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1910, kemudian pendudukan Jepang, awal Kemerdekaan hingga pemberontakan PKI. Cerita ini dimulai pada tahun 1910 ketikaSastrodarsono mulai menapakkan kakinya ke jenjang priyayi. Pada masa ini adalah masa penjajahan Belanda.
Bukti:
1. “waktu itu sekitar tahun 1910 Masehi, daerah di sekitar desa-desa  tersebut boleh dikata masih lebat hutannya (Para Priyayi, 2003: 33)”.
                              2. “itu berarti sayalah orang pertama dalam keluarga besar kami yang berhasil menjadi priyayi (Para Priyayi, 2003: 29)”.
3. “sayang bulan madu dengan Indonesia Rayaitu tidak berlangsung lama sebab lagu itu bersama banyak hal lainnya kemudian dilarang oleh tentara Dai Nippon, tentara yang membebaskan kita dari belenggu penjajahan Belanda (Para Priyayi, 2003: 124)”.

4. “pada waktu pemberontakan PKI Muso di Madiun, kota Wanagalih sempat juga dilewati prahara itu (Para Priyayi, 2003: 4)”.
              
b.      Tempat:terdapat beberapa latar tempat dalam novel ini dikarenakan    adanya     pembagian episode, yaitu:
1.      Wanagalih
Wanagalih adalah nama ibukota kabupaten yang merupakan tempat tinggal Sastrodarsono dan Ngaisah. Tempat ini merupakan pusat berkumpulnya seluruh anggota keluarga Sastrodarsono.
Bukti: “nama Lantip itu saya dapat kemudian waktu saya mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono, di jalan Setenan, di kota Wanagalih (Para Priyayi, 2003: 9)”.
2.      Wonogiri
Wonogiri sendiri merupakan tempat mengajar Hardojo. Hardojo berada di Wonogiri selama dua tahun. Beliau  juga mendapatkan istri yang berasal dari daerah Wonogiri.
Bukti: “tempat saya mengajar di HIS Wonogiri, yang berjarak lebih kurang tiga puluh kilometer dari kota Solo....(Para Priyayi, 2003: 138)”.
3.      Solo
Solo merupakan tempat bekerja Hardojo setelah mendapat tawaran menjadi abdi dalem Mangkunegaran.
Bukti: “saya pun lantas menyetujui saran tersebut dan berjanji untuk menyusul pada keesokan harinya ke Solo (Para Priyayi: 156)
4.      Yogyakarta
Yogyakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho sebelum pindah ke Jakarta. Pada masa penjajahan Belanda, ia bekerja sebagai guru HIS di Jetis Yogyakarta. Selain itu, Hardojo juga tinggal di Yogyakarta setelah ia kecewa dengan sikap Mangkunegaran yang memihak Belanda.
Bukti: “Kami pun lantas untuk sementara pindah lagi ke Yogya ke rumah ibu Sus, yang menetap di Yogya sejak pensiunnya di Semarang. Rumah itu tidak berapa besar, di bilangan Jetis, tidak jauh dari bekas sekolah dasar, tempat saya mengajar dulu (Para Priyayi, 2003: 189)”.
5.      Jakarta
Jakarta merupakan tempat tinggal keluarga Noegroho. Ketika keluarga Noegroho terkena musibah, Marie hamil di luar nikah, Lantip ditugasi oleh Sastrodarsono dan Ngaisah untuk ikut Sus ke Jakarta dan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain itu, keluarga Soemini, anak Sastrodarsono yang ketiga, juga tinggal di Jakarta.
Bukti:
c.       suasana           :
1.      serius “Tiba-tiba suasana jadi serius sekali (Para Priyayi, 2003:35)
2.      menyedihkan “Dan beliau menangis terisak-isak. Mukanya terlihat tersinggung betul (Para Priyayi, 2003:129)
3.      menegangkan “Kami semua berdebar menunggu Dokter Waluyo memeriksa tubuh mbah kakung (Para Priyayi, 2003:302)
4.      mengecewakan “Akan tetapi, sesudah sekolah itu berjalan dengan lumayan lancar, rupanya Gusti Allah tidak mengizinkan saya untuk meneruskan usaha saya.... (Para Priyayi, 2003:108)
5.      mengkhawatirkan “hal yang kemudian mengkhawatirkan adalah perkembangan PKI dan pengaruhnya dalam tubuh tentara terutama di solo (Para Priyayi, 2003:192)
6.      emosi “Amarah saya benar-benar meluap mendengar kebiadaban cara pasukan dan pengikut PKI menduduki Wanagalih, membunuhi pamongpraja, para pemuka agama... (Para Priyayi, 2003:193)
B.     SARANA CERITA
1.      Judul: Para Priyayi
Sesuai dengan judulnya novel ini menceritakan tentang kisah hidup priyayi-priyayi pada zaman dahulu. Perjuangan hidup untuk membangun satu generasi priyayi yang berasal dari seorang petani. Kepriayian Sastrodarsono berusaha diturunkan kepada anak-anaknya. Sastrodarsono dan Ngaisah berhasil mendidik anak-anaknya hingga menjadi priayi-priayi modern yang berhasil. Sebenarnya novel ini juga menunjukkan kekontrasan antara penikiran, kehidupan antara kaum kecil dengan priyayi.
2.      Sudut Pandang
Sudut pandang pengarang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang pertama ini terlihat pada setiap episode cerita. Pengarang bertindak sebagai orang pertama yang sedang menuturkan pengalamannya. Sudut pandang ini menempatkan pengarang sebagai “saya” atau “aku” dalam cerita. Pada bagian Lantip, pengarang menjadi Lantip, pada bagian Sastrodarsono, pengarang menjadi Sastrodarsono, dan seterusnya. Ini suatu cara bercerita yang menarik karena pengarang menjadi beberapa tokoh sekaligus dalam satu rangkaian cerita.
Bukti:
1. “nama saya Lantip (Para Priyayi, 2003: 9)”.
2. “hari itu saya, Soedarsono, anak tunggal Mas Atmokasan....(Para Priyayi, 2003: 29)”.
3. “waktu saya gagal kawin dengan Dik Ninuk, hidup jadi seperti tanpa gairah lagi (Para Priyayi, 2003: 138)
4. “sesudah saya kembali dari Wanagalih untuk menghibur Bapak yang merasa sangat terpukul oleh tempelengan tuan Nippon....(Para Priyayi, 2003: 177)”.
3.      Gaya dan Nada:
Dalam menuliskan novel ini pengarang banyak menggunakan Bahasa Jawa yang digunakan untuk menuliskan dialog antar tokoh. Bukan sekadar Bahasa Jawa biasa, melainkan Bahasa Jawa Kromo Inggil (sangat halus), kromo (halus), dan ngoko (kasar). Contoh Bahasa Jawa Kromo Inggil: inggih, sugeng dhahar, panjenengan, nyuwun sewu pangapunten, dan lain-lain. Bahasa Jawa Kromo: nderek,. Bahasa Jawa Ngoko: wong ndeso, kleleran, priye nduk, dan lain-lain. Selain banyak menggunakan Bahasa Jawa, penulis juga banyak menggunakan tokoh dengan nama-nama jawa, seperti Sastrodarsono, Ngadiyem, Soemini, Noegroho, Lantip, dan lain sebagainya. Karena banyak menggunakan Bahasa Jawa, maka tidak semua pembaca dapat memahami cerita dari novel tersebut. Mungkin hanya pembaca yang berlatarbelakang orang jawa saja yang mampu memahami cerita secara keseluruhan. 
C.    TEMA
Tema yang diangkat dalam novel “Para Priyayi” mengenai kehidupan keluarga besar priyayi Jawa dan masalah-masalah yang ada didalamnya. Keluarga yang dimaksud adalah keluarga Sastrodarsono. Masalah yang menonjol adalah masalah pendidikan yang ikut menentukan status sosial dan mengangkat martabat seseorang dalam masyarakat. Pendidikan ikut menentukan kepriyayian seseorang juga kesanggupannya mengejawantahkan status kepriyayian itu dalam kehidupan ini, terutama mempertanggungjawabkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Bukti: “....semangat kerukunan dan persaudaraan itu yang terpenting....semangat  pengabdian kepada wong cilik....perjalanan mengabdi pada masyarakat banyak, terutama wong cilik tidak akan ada habisnya (Para Priyayi, 2003: 333-335)”.
D.    UNSUR PRAGMATIK
Novel ini sebagai NOVEL ESAI yang menyerupai album besar yang didalamnya berisi kumpulan cerita yang membentuk satu kesatuan cerita. Para Priyayi terdiri atas sepuluh bagian cerita yang salingberkaitan dan saling melanjutkan dan melengkapi. Yang menjadi persoalan pembaca ketika membaca novel ini adalah penggunaan kata-kata, idiom, dan ungkapan Jawa yang terasa agak mengganggu bagi pembaca yang tidak mengerti Bahasa Jawa hingga pada akhirnya memberi dampak kurang puas setelah membaca dan memahami novel yang serat akan makna sosio-budayanya ini. Seharusnya pengarang memberikan catatan kaki sehingga siapapun yang membaca novel ini akan paham dengan makna yang terkandung di dalamnya secara komperehensif. Selain itu melalui novel ini kita bisa tahu bahwa sebagai Bangsa Indonesia kita harus membela negara kita agar tidak dijajah oleh bangsa lain.
E.     UNSUR EKSTRINSIK
        Novel ini menggambarkan sosial masyarakat Jawa yang mempunyai adat dan kebiasaan yang cukup unik, khususnya daerah Wanagalih (Ngawi) Jawa Timur. Hal ini tidak terlepas dari sosial budaya pengarang yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Pengarang sepertinya telah paham betul akan kehidupan priyayi-priyayi pada masa itu. Seakan-akan pengarang mampu menceritakan secara detail lika-liku kehidupan ketika itu. Kebudayaan Jawa yang ditampilkan dalam novel ini begitu halus dan lembut penyampaiannya sehingga tidak semua orang dapat memahaminya. Selain itu, kebudayaan di keraton Mangkunegaran Surakarta pun ikut ditampilkan dalam novel ini. Mangkunegaran merupakan tempat bekerja Hardojo sehingga dalam novel ini juga diceritakan mengenai kebudayaan di Surakarta.
Selain itu di dalam novel ini juga terdapat unsur keagamaan. Hal ini dapat terlihat ketika menceritakan bahwa pernikahan beda agama itu tidak diperbolehkan. Buktinya terdapat pada BAB HARDOJO yang menceritakan Hardojo gagal menikah dengan Dek Nunuk karena mereka beda agama. Hardojo beragama Islam, sedangkan Dek Nunuk beragama Katolik. Bukti lain yang menunjukkan bahwa di dalam novel ini terdapat unsur keagamaan adalah ketika si tokoh banyak mengucapkan kalimat-kalimat yang intinya mengagungkan nama Tuhan.
F.     BIOGRAFI PENGARANG
UMAR KAYAM adalah sastrawan yang sosiolog, atau sosiolog yangsastrawan. Ayah Umar Kayam adalah seorang guru Hollands Inlands School (HIS) . Lahir 30 April 1932, di Ngawi Jawa Timur. Menempuh pendidikan di HIS Mangkunegoro Surakarta, di mana ayahnya juga mengajardi sana. Di sekolah tersebut dia berteman akrab dengan Kliwir panggilan akrab Wiratmo Sukito, salah seorang tokoh MANIKEBU Gelanggang Tahun 60-an. Setelah itu, dia melanjutkan sekolah di MULO (setingkat dengan SMP),dan melanjutkan SMA bagian bahasa (bagian A) di Yogyakarta. Lulus dari SMA tahun 1951, Umar Kayam atau biasa dipanggil UK melanjutkan pendidikan di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1955 UK melanjutkan studinya ke University School of Education,USA (1963). Setelah mendapatkan gelar Master of Education di Univerasitasini, UK melanjutkan program doktoralnya ke Cornell University, USA (1965)dengan desertasi
“Aspect of Interdepartemental Coordination Problems inIndonesian Community Development ”.Semasa kecil, UK sudah akrab sekali dengan dunia membaca. Saat masih duduk di sekolah setingkat SD, UK terbiasa dengan bacaan-bacaan dongeng,dan pelajaran-pelajaran yang terkait cerita dalam bahasa Belanda. Saat duduk di MULO—setingkat dengan SMP—UK sudah akrab sekali dengan Gonewith the Wind serta novel-novel yang lain. Pada saat SMA, beberapa diantara teman-temannya saat itu adalah Nugroho Notosusanto dan Daoed Joesoef yang kelak (kedua-duanya) menjadi Menteri Pendidikan. UK mengelola majalah dinding sebagai medan untuk mengeksplorasi karya-karya sastranya. Di tempat ini pula, UK membincangkan karya sastra Tagore, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, dan karya-karya yang lain. Cerpen “Bunga Anyelir” merupakan cerpen pertama UK yang dimuat di sebuah majalah di Jakarta dan itu ditulisnya saat masih duduk dibangku SMA. Saat Mahasiswa, UK aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan tentu saja dunia kesastraan saat itu. Salah satunya, UK adalah perintis “Universitaria” di RRI Nusantara II Yogyakarta yang menyajikan berbagai informasi kegiatan mahasiswa. Selain itu, UK juga mendirikan majalah minggu dan berbagai kegiatan yang lain, terutama terkait dengan kebudayaan.Selanjutnya, saat kuliah di USA, UK juga aktif menulis karya sastra yang dikirimkan ke berbagai media di Indonesia. Hingga kemudian, sepulangnya di Indonesia, UK ditunjuk sebagai Direktur Jendral Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969). Pada tahun 1969, UK terpilih untuk menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Dan pada saat yang bersamaan, UK juga menjabat sebagai Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (Sekarang IKJ) dan juga menjabat sebagai anggota

Board of Trustee International Broadcast Institute yang bermarkas di Roma.Selain sebagai seorang sastrawan, UK juga merupakan pemain Film. Tercatat, dia pernah menjadi salah satu pemain dalam Film Karmila yang disutradarai oleh Ami Priyono, UK juga pernah memerankan sosok Bung Karno dalam Film G-30-S/PKI yang disutradarai Arifin C Noor. Beliau berperan sebagai Pak Bei dalam Canting, sinetron yang diangkat dari Novel Arswendo Atmowiloto. Kariernya sebagai akademisi dan iluwan, UK tercatatat pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin,Ujung Pandang (1975-1976), Direktur Pusat Studi Kebudayaan UGM (1977-1997), Dosen Pasca Sarjana, Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1998-2001). Pada tahun 1989, dia mendapatpengukuhan sebagai Guru Besar di UGM. UK menikah dengan Rooslina Hanoum dan dikaruniai dua orang putri: Sita Aripurnami dan Wulan Anggraini (Sumber: B Rahmanto, Umar Kayam dan Duniannya, 2004)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FOKLOR ~ Misteri dibalik Cerita Bukit Gombel Semarang

KAWASAN GOMBEL DAN MISTERI DISEBALIKNYA Bila ke kota Semarang dari arah selatan, kita akan melewati daerah Gombel. Nama Gombel menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di kota Semarang itu, melewati tanjakan terjal dan curam saat akan berziarah. Pada waktu itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit. Namun sampai saat ini, belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab pemberian nama Gombel itu. Saat zaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T. de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab saat itu pengembangan kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal ...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.