ASAL
- USUL DUKUH COLOGOWOK
Di kecamatan Lasem Kabupaten
Rembang, tepatnya di Desa Soditan ada sebuah dukuh yang bernama Cologowok.
Dukuh itu berada di Desa Soditan sebelah timur. Di cologowok itu juga ada
sebuah kadipaten. Kadipaten itu adalah Kadipaten Lasem yang dipimpin oleh Santi
Braja. Di belakang kadipaten tersebut ada sebuah tanah kosong yang digunakan
untuk kereta jenazah. Kereta jenazah itu digunakan untuk raja-raja yang
mangkat. Di dalam kadipaten itu juga terdapat dua makam yang sanagat keramat.
Sampai sekarang belum diketahui secara pasti itu makamnya siapa. Banyak hawa
mistis di daerah itu. Suatu ketika ada sepasang pengantin mempelai pria maupun
wanita yang akan bertemu melewati jalan itu, tiba-tiba ada kejadian yang tidak
dinginkan. Warga mempunyai kepercayaan sampai sekarang sepasang pengantin mempelai
pria maupun wanita yang akan bertemu dilarang melewati jalan di sekitar
cologowok itu. Kalau melewati jalan tersebut akan terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan. Warga menganggap jalan di sekitar cologowok itu sangatlah keramat
untuk sepasang pengantin.
Menurut cerita dari mulut ke mulut, zaman dahulu Di
daerah Cologowok itu terkenal dengan keangkerannya. Banyak warga yang melihat hantu
di sekitar tempat itu. Hantu tersebut melangkah dari satu tembok ke tembok
lain. Suatu ketika ada seseorang yang melewati jalan itu. Dia menemukan seekor
ayam. Ayam itu digendongnya dan dibawa
pulang. Saat perjalanan menuju pulang. Ayam itu berkata “enake-enake”. Orang
tersebut sangat terkejut karena yang dibawa bukanlah seekor ayam tetapi tuyul.
Apalagi di dukuh Cologowok belum ada listrik yang
menyalur. Warga disekitar masih menggunakan uplik
sebagai penerangan didalam rumah-rumah. Jalan-jalan disekitar cologowok
sangatlah gelap. Setiap orang yang melewati jalan itu menggunakan colo untuk
perjalanannya. Colo itu seperti sebuah obor yang terbuat dari bambu yang diberi
kain atau sumbu yang sudah diberi minyak tanah. Jalan yang dilewati itu juga
sangatlah bergelombang atau gowak. Warga sering menyebut dengan gowakan. Maka
dari itu kalau lewat jalan itu menggunakan colo sebagai penerangan. Dari
situlah warga menyebutnya dengan “Dukuh Cologowok”. Yang berasal dari kata Colo
dan Gowok. Colo yang berarti penerangan dan Gowok yang berarti bergelombang.
Komentar
Posting Komentar