Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

yang suka karyanya SGA. yuk baca cerpen ini

               Saksi Mata Oleh Seno Gumira Ajidharma  Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu. Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.

Nana Rishki Susanti

PUISI-PUISI NANA RISHKI SUSANTI (NANA ERES) MENGAJAKMU PULANG Tak ada yang beda pada hujan dan kemarau jeda diantaranya menguraikan doa pada lengan sunyi aku tak pernah lagi mengirim rindu padamu pada hujan atau kemarau sebab aku mau menidurkanmu di atas semak perdu aku ingin mengajakmu pulang ke asal mula hatimu : aku Tegal,2008

ini puisiku kawan

Loker sajak-sajak usang Nurul Khabibah ***** Khabibah bersajak hanya untuk yang terkasih. ***** KENYATAANNYA? Betulkah semesta mengaminkan apa yang aku semogakan? Kurasa tidak Cuma angan angan Benarkan? Tapi itu bukan tipuan Lihatlah! Telah sebegitu rupa kau tawarkan tawa Tapi ternyata alam tak menerima Benar begitu? 21/07/14/Tulungagung