Langsung ke konten utama

Nana Rishki Susanti



PUISI-PUISI NANA RISHKI SUSANTI (NANA ERES)
MENGAJAKMU PULANG
Tak ada yang beda
pada hujan
dan kemarau
jeda diantaranya menguraikan doa
pada lengan sunyi

aku tak pernah lagi
mengirim rindu padamu
pada hujan
atau kemarau
sebab aku mau menidurkanmu
di atas semak perdu

aku ingin mengajakmu pulang
ke asal mula hatimu
: aku
Tegal,2008


KUTULIS PUISI DI PASIRMU
Hanya doa
sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu

ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan

kutulis puisi pada pasirmu

ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku rotan coklat penuh rayap kayu
dinding putih penuh kaligrafimu
tirai hijau berderaiderai
mendengar rinduku yang tak sampai padamu
karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut

kutulis puisi pada pasirmu

betapa sakit doaku yang menunggu sampai
di antara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu

aku ingin mengurai cinta
seperti puisi pasir pejalan sunyi
meski terhapus gelombang
yang dikirimkan doa ikanikan
meski impian
tak cukup untuk dituliskan

anakanak surau
membaca hurufmu
di antara tiangtiang perahu
ketika matahari mulai sembunyi

dan aku masih
menulis puisi di pasirmu
Tegal, 2008

HARI SENIN
Tepat di hari senin
aku katakan padamu
lewat daundaun berguguran
di telapak kakiku
inilah mimpiku yang cuma
di pertemuan kita yang sempurna
di menit-menit yang sempit

“kampus tanpa buku
Bagai pohon tanpa bunga
Rumah tanpa istri
Meja tanpa makanan
dan taman tanpa bunga”

Kau tau, aku kembali
ke dongeng masa kecilku
dulu ibuku bilang:
kau akan menemui hari ini lagi
lengkap dengan bunyi yang sama
lirikan mata
petikan gitar
wangi tanah
kembang pagi dan sore
bau tubuh
rambut
hela nafas
dan kacamataku
tak beda dari asal mula
pun bukan untuk hari seperti ini saja
tapi untuk hari-hari terpilih lain
sebab Tuhan ingin memberi
sebuah mimpi
dalam hari itu untukmu
untuk kau wujudkan
bahkan kau pun akan mengira
bahwa kau pernah ada di hari ini
jauh sebelum hari ini
tanpa tau kenapa

Itu misteri hari, sayang,
Dan sial,
aku bertemu dengan dongeng itu lagi
Masa kecilku itu lagi:
Apakah aku pernah menyimpanmu
dengan sepotong rindu
sebelum ini
atau memang kita dipertemukan Tuhan
lewat mimpi
dan kembali jadi hari yang pasti
ketika kau, di perpustakaan itu,
menunjukkanku dengan angkuh
pada buku-buku
yang lelah berbincang bersama debu

2008

LANGGAM BOCAH
Hari ini kau memaksaku
ke kampungmu

Debu merayuku
di pagutan rumah
ranum sempurna:
Dua tiang besi di sisi,
Ubin kuning di kanan kiri
menyambutku sebelum pintu

”Disini aku bisa jadi siapa saja”

Dan mataku berkilat melihatmu
kau bocah ayu
bisa membangun rumah kayu
di tanah-tanah
di kampung rekah

dewasalah kau
di tangan hangat perempuan
dan lelaki tabah
dengan akar gelisah
dengan mantra
yang terlanjur ditebarkan
mimpi di hunian

lalu kau bercerita:
ibuku perempuan ayu
dengan keranjang dan sepeda
tiap pagi ia bergegas
ke pabrik seberang desa
betapa wangi bau tubuhnya!
melebihi wangi teh yang ia bawa
di guratan kulitnya
yang menua

ayahku sudah tua
betapa bersahaja ia
di kayuh roda tiga!
bacalah keakrabannya
pada becak dan jalan berdebu
pada keringat dan kelu

“tiap pagi aku menyambut terbit matahari
dengan tanganku
yang mengangkat timba di sumur itu

kuambil air
kucuci diriku

Tuhan tak pernah lelah mengisi sumur kami
dan bila mataku menatap tajam ke bawah
sebelum meraih seember air lagi
maka gema dari dalamnya
membisikkan doa di telingaku:
dewasalah sebelum kau jadi payah.”
2008

PEREMPUAN KEDUA
Bagi Faisal Kamandobat

serupa bulan
merawat bumi
pelan-pelan sengaja diredupkan
dan terbitlah kepedihannya tiap pagi

aku
perempuan kedua
bertahun-tahun menunggui kata
dari rapal mantra si pecinta

malam hari
kutuliskan pengakuanku
mungkin saat itu kau sedang melamunkan kenangan di La mama
atau di antara debu-debu jalan Victoria
dan masih saja memuja cerita Hellen Collins
ketika gerimis mengetik-ngetik genting rumahmu
diam- diam malaikat menyampaikannya padamu
pertama,
bagaimana kau akan menggambarkan rambutku
apakah seindah benang sari kembang melati
serupa tikar di taman kota, arak-arakan awan,
atau rintik hujan?
kedua,
bagaimana kesunyianku memabukkan engkau yang riuh
padahal mataku bukan benih matahari
ia tak bisa membuat pejalan silau dan tersesat ke barat;
tempat segalanya tersimpan di kerinduan
serupa nabi dan kitab suci yang dinanti-nanti
ketiga,
aku paham sempurnanya pura-pura
terlebih bagi cinta;
seperih kerikil dan paku di jalan berdebu
maka
kupinjam pagi dari matamu
untuk membangun siang
saat paling tepat bagi mimpi yang hendak kumatikan

dari bibir perempuan kedua
lahirlah setiap kecemasanmu
Tegal, 2008


--------
Nana Riskhi Susanti, atau Nana Eres, lahir di Tegal, 02 oktober 1990. Menulis puisi, cerpen, lakon dan esai, sejak SMA. Bergabung dalam sanggar Lare'S Dramatik Tegal. Puisinya dimuat dalam antologi Aku Ingin Mengirim Hujan(Dewan Kesenian Semarang, 2008) dan beberapa koran lokal. Kini tercacat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES.(-)

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Menarik, Mbak. Gambar gifnya lucu. Cuma namanya mba nana itu Nana Riskhi Susanti loh ya hehe. Nah kalau bisa misal mencantumkan biodata penulis itu disesuaikan sama keadaan nyata ya. Masa masih mahasiswa :( tapi desain blognya cakep kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iya. Terima kasih atas sarannya. Dan terima kasih sudah berkunjung

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI SINOPSIS Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang. Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang han...

FOKLOR ~ Misteri dibalik Cerita Bukit Gombel Semarang

KAWASAN GOMBEL DAN MISTERI DISEBALIKNYA Bila ke kota Semarang dari arah selatan, kita akan melewati daerah Gombel. Nama Gombel menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di kota Semarang itu, melewati tanjakan terjal dan curam saat akan berziarah. Pada waktu itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit. Namun sampai saat ini, belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab pemberian nama Gombel itu. Saat zaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T. de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab saat itu pengembangan kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal ...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.