Loker sajak-sajak
usang Nurul
Khabibah
*****
Khabibah
bersajak hanya untuk yang terkasih.
*****
KENYATAANNYA?
Betulkah semesta mengaminkan apa yang aku semogakan?
Kurasa tidak
Cuma angan angan
Benarkan?
Tapi itu bukan tipuan
Lihatlah!
Telah sebegitu rupa kau tawarkan tawa
Tapi ternyata alam tak menerima
Benar begitu?
21/07/14/Tulungagung
SEPERTI HIDUP
Terasa begitu hambar
Musim ini tetap layu
Padahal semi
Tapi tak berbunga
Tak berbau
Juga tak berwarna
Aku takut tak
merasa
Riwisnya hanya satu
Tapi entah di mana
Jalanan yang tak lekang
Hanya candu yang bisa ditemui
Sakau di mana-mana
Entah kapan selesai
Kau tak mengerti
Dia tak mengerti
Mereka tak
mengerti
Sunyi
Riwisnya di mana
Jejalan ini begitu
suram
Tak ada yang paham
Semua terbias jelas
Tapi sebegitu hampa
Kini sabit itu terbalik
Seketika meruang tak karuan
Dunia kelabu
Pun juga hidup
Yang samar-samar tak jelas
Kapan bisa berbalik?
21/07/14/Tulungagung
MISTERI ORANG MABUK
Misteri apa yang disembunyikan,
candu di tangan dan sabit di bibir,
berjalan gontai sambil komatkamit,
Entah.
aku tak tahu.
28/06/14/Semarang
SEPERTI NYANYIAN RINDU
Aku selalu memikirkan-Mu
Ditengah gemericik air hujan
Yang sarat akan nyanyian
Aku benar benar tak bisa
Menahannya
Mengecup bibir-Mu yang
Manis
Detak jantung
Begitu cepat dan
tak
Beraturan
Dentuman demi dentuman
Mengingatkan
aku pada-Mu
aKU tersenyum tanpa sadar
Kabut imajiner melanda
Hatiku
Masih dalam kealpaan
Aku mengingat nama-Mu
11/05/14/Semarang
SEBELUM TIBA WAKTU
dengarlah aunganku di
sudut kamar itu, suaraku
menggema bagai bekel
indah, dengarlah baikbaik
puisi yang kubaca untukmu,
wahai kawankawanku,
lihatlah tingkahku malam ini
yang gila akan kau,
ku bersyair tentang detak
jam yang tak pernah
berhenti, persis seperti
detakan jantungku yang
selalu berucap “RINDU,”
betapa indah jika kita
mampu berdiri bersama
malam ini, sebelum nantinya
kita akan berpisah untuk
waktu yang entah berapa,
19/08/14/Tulungagung
HASRAT CINTA YANG TERPENJARA
izinkan aku meliarkanmu malam ini
hanya untuk memuaskan hasrat yang
lama terpenjara.
perkenankan aku bersetubuh
denganmu malam ini, wahai
mari kita habiskan malam dengan penuh
cinta,
hiraukan suarasuara tak
bersahabat,
nikmati kerinduanku yang kian
menggeliat,
lalu katakan padaku,
kita tutup dengan apa sandiwara
ini?
19/08/14/Tulungagung
AKU MERINDUKAN SAJAK MAKA AKU BERSAJAK
aku merindu pada sajak,
ketika tak bisa memberinya
padamu,
malam ini aku bersajak
tentang suara layanglayang
yang begitu tenang,
tentang hembusan angin malam
yang menusuk tulangku,
tentang nyanyian bebek
yang entah siapa yang punya.
aku merindukan sajak
seperti aku merindukanMu,
dengar dan lihatlah,
aku bersajak malam ini,
ditengah hiruk pikuk kematian,
ditengah meriahnya perkawinan,
di tengah ramainya pesta padi.
malam ini aku bersajak,
hanya untuk engkau yang sedang hijrah
entah sampai kapan.
19/08/14/Tulungagung
KETIKA MENGINGAT DI KESUNYIAN MALAM
Hanya api yang melintasi
cakrawala gelap ini, di sini
Aku masih belum akan lelap,
Terberkatilah tiga anak manusia itu,
Tawanya yang terukir di rongga ini, sesuatu
telah membawa kita kelembah bodoh, tapi
kita masih tetap tertawa,
Gelak itu terpatri jelas, terbersit
serupa nyiur angin barat,
Lihatlah!
Kesunyian yang membawa kita ke lembah hitam,
Di mana hanya ada suara jangkrik yang
Memekakkan telinga.
26/07/14/Tulungagung
AKU MENGAMATIMU, LAUT.
biru di ujung sana,
mendinginkan kalbu,
gemuruh suaranya
menggema di telinga,
ku hanya memandang,
mengamati, semua yang ada,
elok,
sangatlah apik,
semilir angin menyapu segala yang ada, indah,
sungguh indah,
gelombang itu,
pulau pulau itu,
gunung gunung itu,
memesona.
03/08/14/Tulungagung
DI GEDUNG ITU AKU MEMBISU
Gemuruh suara itu,
Memekakkan telingaku,
Kini sepi lagi,
Ocehan-ocehan itu,
Hanya bisa ku dengar,
Tapi ku tetap membisu,
Di tempat ini,
Gedung tua ini,
Ada kebisuanku.
Semarang, 2014
BUKAN SEJARAHKU
ode yang kau kirim itu
meninggikan nadaku
sajaksajak usang itu
mengutukmu menjadi lintah
menjijikkan, sangat
menjijikkan.
taukah kau?
telah begitu rupa ku susun
anak tangga, ku basahi
setiap angin yang lewat, ku
tiup lautan lepas
tapi nyatanya itu tak apa,
lalu apa? kau buatku
bingung,
dongengdongeng para
pendahulu telah meracuni
pikiranmu, kupikir. lalu kau
tanam tunas itu di
kepalamu, dan akhirnya kau
lupa siapa pencipta
sajaksajak usang itu.
benarkah
jika ia, jangan anggap aku
kawan,
ini sejarahmu
dan bukan sejarah kita
Tulungagung, 19/08/14
MALAM doa-doa KU
“MALAM” kataku pada suatu malam.
engkau mendengarnya bukan.
seperti doa-doa perpisahan
begitulah;
ketika dulu kita masih sekolah.
ketika akhirnya kita
sama-sama larut;
dan malam makin hangat saja
berkaca-kaca
waktu cuma pokok pepohonan yang menua
seperti itulah;
bukankah perjalanan kita kebelakang menyenangkan,
sekaligus membuatku jatuh hati?
Tulungagung/19/08/14
BERAKHIR PADA BATU
:jaka budeg
kakang, masih ingatkah kau kejadian
petang itu
kala jemariku membelai lembut rambut hitammu
dan ku panggil kau dengan bisikan halus
tepat di pendengaranmu
kakang, maafkan aku
nyatanya takdir bicara lain
perjuanganmu selama 40 pagi 40 petang
ku hancurkan dalam sekejap mata
kakang, ternyata benar
alam telah mengaminkan apa yang aku tuahkan
maafkan aku kakang
karena telah mengubahmu menjadi batu
kini jasadmu abadi tepat di kananku
gunung budeg
itulah wujudmu sekarang
kakang, sungguh penyesalanku tiada tara
sebagai gantinya
suntinganmu aku terima
dan telah ku ikrarkan diri untuk selalu bersamamu
kini aku milikmu dan
kini kita berdekatan
gunung bolo
itulah rumahku sekarang
yang berada tepat di kirimu
Semarang/16/09/14
Sayang aku
lelahku tiba berkepanjangan
namun aku belum akan pasrah, putri
lihatlah!
ternyata jarak antara bumi dan langit makin menjadi
hingga tak kuasa tanganku merengkuh bulan di atas sana
yang cahyanya begitu
elok dan menggoda
pun denganmu, putri
ayumu bak rembulan malam
yang selalu ingin ku sentuh dan ku goda
mencintaimu aku buta
menginginkamu aku gila
namun, putri
dalam masalah hati
tak sedikitpun ku akan menyerah, sayang
namamu telah terpatri kuat di dadaku
Semarang/16/09/14
baguuuus blognya, tapi warna hijaunya terlalu mencolok jadi kurang nyaman pas membacanya.
BalasHapus:)
udah gak ijo lagi nih., :)
Hapuspuisi-puisinya sangat indah :)
BalasHapustapi untuk tampilan blognya memang terlalu cerah, mungkin bisa diatur kembali..
ok., say
HapusPuisi yang indah saya suka. Blognya sangat bagus, tampilannya berwarna, ada alunan lagunya pula, memberi kesenangan tersendiri ketika membaca postingannya mbak Khabibah. Saya suka foto utamanya mbak Khabibah. Pentas di mana?
BalasHapusterima kasih mas ndom.,
BalasHapusitu pentas pas porsiaf kemarin.,
waaaah... kamu ndak nonton ya :(
blognya bagus, isinya juga ngak kalah bagusnya.
BalasHapussemoga dapat terus berkarya ya :D