Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018
Mari merindu pada sosoknya yang lucu Mari merindu pada sosoknya yang lugu Mari merindu pada sosoknya yang unik Mari merindu pada sosoknya yang uwu Malam itu Dira sibuk dengan masa lalunya. Masa lalu yang sudah dikubur bersama jasad kekasihnya yang sudah berpulang ke pangkuan-Nya. Ya, Dira seorang "Jodi". tau kan "Jodi" itu apa. Jodi adalah Jomblo Ditinggal mati. Kasihan Betul si Dira. Belum juga ia merayakan satu tahun hubungannya dengan Radit, Ia sudah ditinggal Radit bermesraan dengan para bidadari.  Malam itu Dira sedih. Malam itu Dira diselimuti rasa rindu dan kantuk.  Malam itu, Dira terjada sendirian di depan benda buatan manusia yang kelak kita kenal sebagai labtop. Malam itu Dira sendirian duduk di pojok tempat tidur sambil merindu sambil bercumbu dengan lagu Bang Iwan yang judulnya, "Dira menanti seorang kekasih".  {BERSAMBUNG}

oh tidak, Tuan

(Setelah Nonton Drakor Doo Bong Soon) Mereka bilang laki-laki suka dengan gadis yang lembut dan lemah seperti bunga kosmos Mereka bilang satu langkah tepat di depanmu akan mengubah segalanya Mereka bilang cinta yang bertepuk sebelah tangan itu ada kedaluwarsanya Kedaluwarsa Hmm... aku jadi berpikir, Tuan Apakah cinta bertepuk sebelah tanganku juga kedaluwarsa Atau dia sedang hibernasi sebentar Atau dia sedang ... Ah, sudahlah, Tuan Saya tidak pandai berandai-andai Barangkali saya juga tidak pandai mencintaimu Saya tidak berhasil menjadi bunga kosmos yang disukai banyak laki-laki Oh tidak, Tuan Saya hanya berusaha yang terbaik belajar dari kemungkinan-kemungkinan buruk seperti yang dialami Romeo-Juliet, Laela-Majnun, Tigris-Ishole, Rahwana-Sinta, atau yang paling dekat dengan kita adalah Panji-Sekartaji Tidak, Tuan Saya benar-benar buta tentang semua itu Dan saya sudah mulai merasa gila Saya mulai merasakan bahwa Tuhan benar-benar sahabatku (T...

maaf... ini adopsi (tidak lahir dari otakku)

Satu hari tiga surat untuk empat mata satu pandangan empat kaki satu tujuan empat tangan satu genggaman dua hati satu ikatan Oh, Tuhan. Saya benar-benar edan dibuatnya. Laki-laki itu memang seperti anjing yang sangat lucu Tapi mereka juga siap menerkam ketika lapar Oh tidak. Saya benar-benar bingung dibuatnya Bagaimana bisa udara biru warnanya Bagaimana bisa zal asam didesak asam arang Kemudian karbon dioksida itu Oh, Tuhan. Kembalikan kewarasanku Kalau saya tidak salah menghitung, ini sudah liris ke tiga untuknya Maaf, bukan sudah tapi masih Entah akan berapa liris lagi tersaji di meja sebagai menu sarapanku makan siangku makan malamku bahkan sebagai camilan setiap hariku Gila, sungguh tidak masuk akal Oh, Tuhan Kau menciptakan semua tanpa ada yang sia-sia Gunung kau letuskan supaya tidak ada eksploitasi besar-besaran Kau cipatan peperangan hingga ribuan tewas di medan laga supaya bumi ini tidak sesak oleh manusia-manusia Barbar Banjir kau ci...

(j)angan

Tadinya saya ingin menjadikan anda sebuah naskah lakon atau prosa liris atau naskah monolog yang dikoarkoarkan para pengecer jasa akting itu Tapi saya urungkan niat saya itu, sebabnya saya tidak rela jika anda dinikmati banyak orang dengan nilai yang berbedabeda Sebabnya saya tidak menghendaki jika anda dipandang sebelah mata lantaran anda hanya sebuah tulisan yang bebas diartikan sang pembaca Lantaran anda hanya sebuah karya yang bebas diapresiasi siapapun penontonnya Sebab anda hanya sebuah lakon yang bebas diutakatik sang sutradara Saya tidak menghendaki semua itu Biarlah, anda saya nikmati sendiri dengan cara saya sendiri Biarlah, anda saya kritisi dengan cara saya sendiri Biarlah, anda saya apresiasi dengan cara saya sendiri Tanpa perlu repotrepot menjadikan anda sebuah naskah lakon atau prosa liris atau naskah monolog yang dikoarkoarkan para pengecer jasa akting (TA. 27/11/17)

Hai... Mas(ih)

HAI MAS Mas, apa kabar Di pertengahan November ini hujan turun di bawah langit yang cerah Mas, jangan kangen Di bulan ke enam ini aku masih tak ber kabar Mas, senyum yang lebar Tepat di tahun yang ke empat ini aku resmi menyematkan gelas espede Mas, jangan nangis Di tahun yang kesekian ini kamu masih menghidupi diri sendiri Mas, tetap bersyukur Rizki yang kau dapat termasuk rizki yang berkah Mas, aku tunggu Kabar bahagia tentang kau dan dia Tulungagung, 15 November 2017

Bali(k) di hatiku

Kang, bagaimana ya saya menjelaskannya. Ini perihal kopi yang barusan saya seduh. Aromanya masih sangat kuat menusuk hidung saya. Kepul asapnya masih menyebar di seantero ruangan ini. Saya lihat, perlahan-lahan serbuknya luruh. Tapi Kang, aroma kopiku di siang bolong ini tak setajam sebelum sebelumnya. Pun tak sepekat sebelumnya. Maklum, saya sedang sedikit ngalah pada tendangan dahsyatnya itu. Kang, ngopi di siang bolong begini mengingatkan saya padamu. Apa kabar kamu di negeri orang-orang berhaji? Sudah lama ya saya tidak berkirim kabar bahkan menyapapun tidak. Maaf, bukannya saya sombong atau bagaimana, bukan juga karena marah, tidak sama sekali kang. Saya hanya ingin melewati jalan yang tidak ada akang di dalamnya. Bagaimana kekasih baru akang, apa dia menyebalkan seperti saya. Pastinya tidak ya kang. Saya lihat dia juga cantik, anak Bali ya. Maaf kang, saya stalking media sosialnya. Maklum lah kang, saya kan tidak mau akang jatuh pada orang yang salah, apalagi orang yang s...

Hai, Kamu yang jauh di mato pun jauh di hati

Kau salah, Tuan Kopiku jauh lebih mahal dari gincu dan pupur di wajahku Sehari tanpa perias wajah aku mampu, tapi sehari tanpa serbuk hitam yang akan mengepul ketika diseduh itu rasanya mau mati Telah kau sangsikan, aku sudah terlalu candu dengannya Tuan, tubuhku terlalu sakau jika sedetik saja tak mencium arum kepulnya Tapi Tuan, secandu-candunya serbuk itu di tubuhku Candumu melebihi itu Bahkan, bukan hanya september oktober november desember yang terkena guyuran rindu tapi september oktober november desember kemudian januari februari maret april mei juni juli lalu agustus dan kemudian kembali lagi ke september, semua terkena guyuran rindu secara merata Deras, sangat deras Tuan, jika kau tak keberatan Bolehlah aku menampung tetes demi tetes air mata api yang kau tuangkan Tapi sayangnya aku tak sanggup, Tuan Rintiknya terlalu deras Ritusnya terlalu sukar dilaksanakan Tapi, Tuan Jika kau tak keberatan Bolehlah aku merapalmu pada sesudah dan menjelang t...
Sepucuk harapan Mas: Hari ini hari kamis Kamu di mana? Kapan aku bisa pulang dengan kereta kencana indah itu? Besok jumat, mas Kemudian sabtu Lalu minggu senin selasa rabu Kemudian kembali lagi ke kamis Kamis yang sama, tapi pasti berbeda Iya kan, mas Tulungagung, 16 November 2017

titip satu kata

banyak hal yang ingin ku ucapkan meski dijembatani oleh kepulan kopi panas  pun malam yang sunyi banyak hal yang kurindukan meski hanya bisa kupendam  dan kukubur dengan katakata liris  banyak hal yang ingin kutulis meski pada akhirnya kau buang  pun kau bakar pada asa kutitipkan satu kata untukmu BAJINGAN ~Tulungagung, 18/11/2018~

Media Pembelajaran MENCERITAKAN PENGALAMAN

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI SINOPSIS Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang. Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang han...