Langsung ke konten utama

Bali(k) di hatiku


Kang, bagaimana ya saya menjelaskannya. Ini perihal kopi yang barusan saya seduh. Aromanya masih sangat kuat menusuk hidung saya. Kepul asapnya masih menyebar di seantero ruangan ini. Saya lihat, perlahan-lahan serbuknya luruh. Tapi Kang, aroma kopiku di siang bolong ini tak setajam sebelum sebelumnya. Pun tak sepekat sebelumnya. Maklum, saya sedang sedikit ngalah pada tendangan dahsyatnya itu.
Kang, ngopi di siang bolong begini mengingatkan saya padamu. Apa kabar kamu di negeri orang-orang berhaji? Sudah lama ya saya tidak berkirim kabar bahkan menyapapun tidak. Maaf, bukannya saya sombong atau bagaimana, bukan juga karena marah, tidak sama sekali kang. Saya hanya ingin melewati jalan yang tidak ada akang di dalamnya.
Bagaimana kekasih baru akang, apa dia menyebalkan seperti saya. Pastinya tidak ya kang. Saya lihat dia juga cantik, anak Bali ya. Maaf kang, saya stalking media sosialnya. Maklum lah kang, saya kan tidak mau akang jatuh pada orang yang salah, apalagi orang yang seperti saya ini. Tau diri lah saya.
Ohya, kang. Ngomong-ngomong soal Bali, sudah dua kali lo saya bertandang di pulau seribu pura itu. Di sana tempat-tempatnya sangat indah, tertata rapi, bersih pula lingkungannya. Saya juga melihat warga-warga di sana ramah dan baik-baik. Saya jadi tambah yakin, akang tidak salah pilih perempuan.
Dulu, ketika saya mampir di Bali saya selalu terlena. Maaf ya kang, saya sedikit melupakan akang karena keelokan tempat itu. Ya bukannya apa-apa, saya terlalu sibuk mengamati sekeliling supaya ketika kita nanti liburan ke sana kita tidak usah repot-repot lagi menyewa pemandu wisata. Eh, malah sekarang akang dapat orang Bali.
Kang, masih suka main gitar. Saya pingin sekali bisa main gitar kaya akang. Biar kita bisa duet bareng.
Akang kapan pulang? Indonesia sekarang banyak bencana, kang. Mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, dan lainnya. Ngomong-ngomong soal gunung meletus, saya jadi ingat kejadian di Bali. Gunung agung erupsi lo kang. Pacar akang tak apa-apa? apa dia baik-baik saja? Keluarganya? Rumahnya? Piaraannya? Ha... piaraan, dia kan sosialita ya, mana mungkin punya piaraan. Memangnya saya, yang hidupnya di desa, berkawan rumput dan cangkul. Hah, ada-ada saja ya kang saya ini. Lagian, kenapa saya menghawatirkannya, bukankah dia itu rival saya. Tapi sebagai perempuan yang baik hati, saya punya kewajiban juga menghawatirkan sesamanya. Saya juga tidak mungkin tega menikam jenis saya sendiri. saya taulah bagaimana rasanya ditikam jenis sendiri.
Saya sudah selesai kuliah, kang. Skripsi sudah rampung. Tinggal nunggu wisuda. Dulu, saya selalu berdoa ketika saya wisuda akang hadir membawakan setangkai bunga mawar seperti yang sering akang posting di media sosial. Datang bersama kedua orang tuaku dan kedua adikku. Mengabadikan moment kelulusanku dengan camera mirorless yang canggih itu. Tapi ya namanya juga harapan. Saya kan juga manusia, bisanya hanya merencanakan. Saya juga tidak salah kan merencanakan yang indah-indah. Tapi ya begitulah, saya rasa harapan saya hanya sebatas harapan. Mustahil menjadi kenyataan. Wong saya dan akang tidak ada hubungan apa-apa. Teman? Bukan. Pacar? Apalagi. Saya hanya sebatas kenal.
 Akang kenal saya apa tidak? Ha, tidak? Akang ini bagaimana to. Kan saya sering ganggu akang. Ganggu waktu istirahat akang, ganggu waktu kerja akang, mungkin saya juga sering ganggu suasana hati akang. Maafkan saya ya, kang. Itu semua saya lakukan hanya karena saya ingin lebih dekat dengan akang. Saya hanya ingin dikenal akang. Tapi sekarang sudah tidak pernah ganggu lagi kan. Semoga hari-hari akang menjadi lebih tenang dan damai.  Sudah ya, kang. Baik-baik di sana. Semoga sehat selalu. Ini sudah Desember, kang. Banyak hal yang saya panjatkan. Untukmu, untukku, untuk kita.
See you ... [..]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI SINOPSIS Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang. Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang han...

FOKLOR ~ Misteri dibalik Cerita Bukit Gombel Semarang

KAWASAN GOMBEL DAN MISTERI DISEBALIKNYA Bila ke kota Semarang dari arah selatan, kita akan melewati daerah Gombel. Nama Gombel menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di kota Semarang itu, melewati tanjakan terjal dan curam saat akan berziarah. Pada waktu itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit. Namun sampai saat ini, belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab pemberian nama Gombel itu. Saat zaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T. de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab saat itu pengembangan kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal ...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.