Langsung ke konten utama

maaf... ini adopsi (tidak lahir dari otakku)


Satu hari tiga surat untuk empat mata satu pandangan empat kaki satu tujuan empat tangan satu genggaman dua hati satu ikatan
Oh, Tuhan.
Saya benar-benar edan dibuatnya.
Laki-laki itu memang seperti anjing yang sangat lucu
Tapi mereka juga siap menerkam ketika lapar
Oh tidak.
Saya benar-benar bingung dibuatnya
Bagaimana bisa udara biru warnanya
Bagaimana bisa zal asam didesak asam arang
Kemudian karbon dioksida itu
Oh, Tuhan.
Kembalikan kewarasanku
Kalau saya tidak salah menghitung, ini sudah liris ke tiga untuknya
Maaf, bukan sudah tapi masih
Entah akan berapa liris lagi tersaji di meja sebagai menu sarapanku makan siangku makan malamku bahkan sebagai camilan setiap hariku
Gila, sungguh tidak masuk akal
Oh, Tuhan
Kau menciptakan semua tanpa ada yang sia-sia
Gunung kau letuskan supaya tidak ada eksploitasi besar-besaran
Kau cipatan peperangan hingga ribuan tewas di medan laga supaya bumi ini tidak sesak oleh manusia-manusia Barbar
Banjir kau ciptakan supaya tidak ada kekeringan
Kekeringan kau ciptakan supaya tidak ada kemubadziran air
Kau ciptakan kebakaran supaya tidak ada yang suka bermain api
Kau ciptakan perempuan supaya laki-laki tidak kesepian
Laki-laki tidak kesepian,
Ya, laki-laki seperti apa yang tidak bisa kau biarkan kesepian
Semua laki-laki?
Tapi kenapa dia tidak mau saya temani supaya tidak merasa sepi
Dengan cara menari misalnya, minum kopi, bernyanyi, ngobrol ngalor-ngidul, atau paling tidak sekadar duduk bersama di beranda depan rumah.
Ah, saya bingung, saya pusing, pening kepala saya
Lebih baik saya sudahi saja jari jemari ini menari di atas keyboard
Toh ini juga bukan tugas kuliah yang harus diselesaikan atau dikumpulkan
Lebih baik saya sudahi saja pikiran-pikiran liar menari-nari diatas kewarasanku
Toh ini bukan persiapan pentas yang perlu ide-ide cemerlang dari ketidakwarasan yang diciptakan sebotol ciu bekongan
Lebih baik saya cukupkan di sini saja
Toh ini juga kemauan saya sendiri, tiada suruhan, tiada paksaan, dan saya yakin tiada yang baca
Baiklah, saya sudahi.
Tapi bagaimana ini, jari-jemari saya semakin lihai saja menari di atas keyboard
Oh tidaaaaak,
matikan labtopnya!
Tak bisa, karna datanya masih aktif.
Baiklah, kita lanjutkan saja.
Tapi saya sudah tidak kuat lagi menghadapi ketidakwarasanku.
Ketidakwarasan yang mengeras menjadi batu.
(TA.27/11/17)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Novel Para Priyayi karya Umar Kayam

PARA PRIYAYI SINOPSIS Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono  yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi.Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang. Lantip, nama aslinya adalah Wage karena lahir pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu adalah sebuah nama pemberian dari keluarga Sastrodarsono saat Lantip  tinggal di keluarga itu, yaitu di jalan Satenan di kota Wanagalih. Sebelumnya Lantip tinggal bersama Emboknya Desa Wanalawas yang han...

FOKLOR ~ Misteri dibalik Cerita Bukit Gombel Semarang

KAWASAN GOMBEL DAN MISTERI DISEBALIKNYA Bila ke kota Semarang dari arah selatan, kita akan melewati daerah Gombel. Nama Gombel menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat. Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di kota Semarang itu, melewati tanjakan terjal dan curam saat akan berziarah. Pada waktu itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit. Namun sampai saat ini, belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab pemberian nama Gombel itu. Saat zaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T. de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab saat itu pengembangan kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah. Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal ...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.