Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

ini cerpenku yang perertama,.

Misteri “ TANDA CINTA ” By: Nurul Khabibah                   Seorang lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya sore itu. Ia kelihatan murung dan kelihatan memikirkan sesuatu. Matanya mendelik, keningnya berkerut. Rasanya memang ada hal yang sangat penting yang ia pikirkan saat itu. Suara paraunya bersenandung kecil “pararararam...pararararam...pararararam..”. Lalu wajahnya murung lagi. Seselaki si kakek itu disapa orang, namun dia tak merespon sama sekali sapaan tersebut. Rasanya dia memang benar-benar sedang memikirkan hal yang berat dan penting sekali. Hingga dia terlihat seperti orang linglung. “Ahmad... kau sedang apa di situ? Ahmad..! Ahmad.. Kau mendengarkanku? Ahmad!” dari dalam rumah muncul perempuan paruh baya.

ini cerpen keduaku

Manusia-manusia Tolol oleh: Nurul Khabibah Pagi itu aku berangkat ke sekolah. Aku lihat di persimpangan jalan sesosok lelaki yang terkapar di jalan dengan luka yang teramat parah. Darahnya masih segar. “Sepertinya, habis dibunuh dengan dikeroyok oleh sekelompok orang” pikirku. Orang-orang berkerumun, mereka ribut menentukan siapa yang telah membunuh lelaki itu. Perseteruan itu semakin lama semakin seru saja, mirip sekali perdebatan di ruang sidang dewan. Padahal mereka hanyalah sekelompok manusia-manusia tolol yang bangga karena membunuh seorang lelaki. Si lelaki adalah orang kurang beruntung yang kebetulan sedang apes , tapi ia seperti dikirim oleh Tuhan untuk membuat seseorang menjadi pembunuh, dan waktu itu, gelar pembunuh sangatlah membanggakan. Pedebatan semakin memanas. Para pengeroyok yang juga para pembunuh itu saling tuding diri masing-masing.

cerpen SGA

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU by Seno Gumira Adji Darma Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

yang suka karyanya SGA. yuk baca cerpen ini

               Saksi Mata Oleh Seno Gumira Ajidharma  Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba  udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu. Darah membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang berkeredap...

naskah drama

FAJAR SIDDIQ KARYA EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga , kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar.

Nana Rishki Susanti

PUISI-PUISI NANA RISHKI SUSANTI (NANA ERES) MENGAJAKMU PULANG Tak ada yang beda pada hujan dan kemarau jeda diantaranya menguraikan doa pada lengan sunyi aku tak pernah lagi mengirim rindu padamu pada hujan atau kemarau sebab aku mau menidurkanmu di atas semak perdu aku ingin mengajakmu pulang ke asal mula hatimu : aku Tegal,2008

ini puisiku kawan

Loker sajak-sajak usang Nurul Khabibah ***** Khabibah bersajak hanya untuk yang terkasih. ***** KENYATAANNYA? Betulkah semesta mengaminkan apa yang aku semogakan? Kurasa tidak Cuma angan angan Benarkan? Tapi itu bukan tipuan Lihatlah! Telah sebegitu rupa kau tawarkan tawa Tapi ternyata alam tak menerima Benar begitu? 21/07/14/Tulungagung